WELCOME TO Frisdiandi Blog
    Facebook Twitter Feedburner Google +1 Mail

Terjemahkan Kebahasa

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianBrazilJapaneseKoreanArabicChinese Simplified
Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Lecehkan Agama, Sinetron 'Kisah Sembilan Wali' Bakal Stop Tayang


Lecehkan Agama, Sinetron 'Kisah Sembilan Wali' Bakal Stop Tayang

Tayangan sinetron berjudul 'Kisah Sembilan Wali' ternyata menuai kontroversi. Sinetron yang ditayangkan di stasiun tv Indosiar ini dinilai oleh komponen masyarakat di Bali telah melecehkan agama dan simbol-simbol agama Hindu.

Massa dari aktivis Mahasiswa Hindu Darma Indonesia Bali (KMHDI), BEM Institut Hindu Darma Indonesia Bali (IHDN), Parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali, menentang keras program sinetron 'Kisah Sembilan Wali' yang ditayangkan sejak tanggal 9 Juli 2012 ini dan meminta agar dihentikan penayangannya.

"Kami telah meminta agar sinetron itu dihentikan, karena terjadi pelecehan penistaan agama Hindu dan simbol-simbolnya. Isi sinetron tersebut bertentangan dengan pokok ajaran agama Hindu," ujar Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Bali Komang Suarsana, saat mendampingi massa di Kantor DPRD Bali, Senin (6/8//2012).

Lebih lanjut Komang mengisahkan, sinetron 'Kisah Sembilan Wali' yang dibintangi oleh Hengky Kurniawan dan Poppy Bunga ini menceritakan sejarah masuknya Islam di Indonesia yang berhadapan dengan budaya Nusantara saat itu, yang bercorak Hindu.

Meski sudah dilayangkan teguran keras pada tanggal 21 Juli 2012, namun tayangan tersebut tetap berlanjut dan tidak digubris, sehingga pihaknya bersama masyarakat mendatangi Wakil Rakyat agar mendukung perjuangan mereka.

Dia meyakini, jalan cerita sinetron 'Kisah Sembilan Wali' telah disetting sehingga terus menempatkan tokoh Hindu dalam bingkai kejahatan dan sebaliknya menempatkan Islam dengan kesucian.

Karena itu, mereka mengancam jika surat teguran dan aspirasi masyarakat tetap tidak diindahkan, maka KPI Bali bersama elemen masyarakat lainnya akan menuntut Indosiar secara hukum.

Protes terhadap stasiun tersebut bukan kali pertama. Sebelumnya juga telah dilayangkan keberatan masyarakat yang dinilai melecehkan Agama Hindu seperti sinetron 'Angling Dharma' dan 'Tutur Tinular'. Saat menemui mereka, anggota Komisi I DPRD Bali Cok Budi Suryawan mengatakan, pemerintah dan DPRD Bali perlu bersikap tegas menyikapi hal tersebut.

Untuk itu, DPRD Bali perlu segera mengeluarkan rekomendasi dan mendesak agar KPI Pusat segera memanggil Indosiar dan meminta untuk menghentikan segera sinetron tersebut.

Lecehkan Agama, Sinetron 'Kisah Sembilan Wali' Bakal Stop Tayang

Tayangan sinetron berjudul 'Kisah Sembilan Wali' ternyata menuai kontroversi. Sinetron yang ditayangkan di stasiun tv Indosiar ini dinilai oleh komponen masyarakat di Bali telah melecehkan agama dan simbol-simbol agama Hindu.

Massa dari aktivis Mahasiswa Hindu Darma Indonesia Bali (KMHDI), BEM Institut Hindu Darma Indonesia Bali (IHDN), Parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali, menentang keras program sinetron 'Kisah Sembilan Wali' yang ditayangkan sejak tanggal 9 Juli 2012 ini dan meminta agar dihentikan penayangannya.

"Kami telah meminta agar sinetron itu dihentikan, karena terjadi pelecehan penistaan agama Hindu dan simbol-simbolnya. Isi sinetron tersebut bertentangan dengan pokok ajaran agama Hindu," ujar Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Bali Komang Suarsana, saat mendampingi massa di Kantor DPRD Bali, Senin (6/8//2012).

Lebih lanjut Komang mengisahkan, sinetron 'Kisah Sembilan Wali' yang dibintangi oleh Hengky Kurniawan dan Poppy Bunga ini menceritakan sejarah masuknya Islam di Indonesia yang berhadapan dengan budaya Nusantara saat itu, yang bercorak Hindu.

Meski sudah dilayangkan teguran keras pada tanggal 21 Juli 2012, namun tayangan tersebut tetap berlanjut dan tidak digubris, sehingga pihaknya bersama masyarakat mendatangi Wakil Rakyat agar mendukung perjuangan mereka.

Dia meyakini, jalan cerita sinetron 'Kisah Sembilan Wali' telah disetting sehingga terus menempatkan tokoh Hindu dalam bingkai kejahatan dan sebaliknya menempatkan Islam dengan kesucian.

Karena itu, mereka mengancam jika surat teguran dan aspirasi masyarakat tetap tidak diindahkan, maka KPI Bali bersama elemen masyarakat lainnya akan menuntut Indosiar secara hukum.

Protes terhadap stasiun tersebut bukan kali pertama. Sebelumnya juga telah dilayangkan keberatan masyarakat yang dinilai melecehkan Agama Hindu seperti sinetron 'Angling Dharma' dan 'Tutur Tinular'. Saat menemui mereka, anggota Komisi I DPRD Bali Cok Budi Suryawan mengatakan, pemerintah dan DPRD Bali perlu bersikap tegas menyikapi hal tersebut.

Untuk itu, DPRD Bali perlu segera mengeluarkan rekomendasi dan mendesak agar KPI Pusat segera memanggil Indosiar dan meminta untuk menghentikan segera sinetron tersebut.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Gara-gara Batman, Tutur Tinular versi gado-gado pun dimuat Wikipedia


Gara-gara Batman, Tutur Tinular versi gado-gado pun dimuat Wikipedia 

Barusan ane cek wikipedia tentang tutur tinular gan, yg sekarang lagi gempar-gemparnya gara-gara munculnya si batman dan joker yg kesasar disitu. Pas ane cek page bagian bawah, ternyata tutur tinular versi gado-gado pun juga ikut dimuat . cek aja nih



Tutur Tinular versi 2012 (Versi Gado-gado)
Karena sukses besar pada serial televisi sebelumnya, pada tahun 2011, Tutur Tinular kembali diangkat dan dikemas dalam sebuah sinetron dengan warna yang berbeda menjadi sebuah serial laga oleh Genta Buana Paramita yang ditayangkan di Indosiar. Tutur Tinular Versi 2011 ini juga banyak melibatkan aktor dan aktris pendatang baru. Proses sulih suara yang menjadi ciri khas sinetron laga pun ditiadakan. Berbeda dengan versi lama tahun 1997 yang tayang satu minggu satu kali, maka versi 2011 ini tayang setiap hari dengan durasi selama 2 jam.

Meskipun pada awal penayangannya, sinetron ini sudah masuk dalam rating 10 besar program televisi pilihan di Indonesia. Namun serial yang salah satu Sutradaranya berasal dari India ini banyak menuai kritik dan protes dari masyarakat maupun para pecinta fanatik sandiwara Tutur Tinular. Hal ini dikarenakan alur cerita yang telah melenceng dari cerita aslinya yang sarat dengan kejadian-kejadian sejarah. Tutur Tinular versi 2011 lebih menonjolkan sisi fiktifnya saja seperti kisah percintaan dan konflik dalam keluarga, dengan selingan lagu dangdut seperti halnya film Bollywood India, serta bermunculan tokoh-tokoh baru yang tidak ada dalam versi sandiwara radio, seperti, pahlawan bertopeng, Respati dan Laksmi, juga Pangeran Bentar yang sebenarnya merupakan tokoh dalam cerita Saur Sepuh ciptaan Niki Kosasih, Dan setelah beberapa episode muncul juga beberapa tokoh yang diambil dari kisah atau legenda yang berbeda, seperti Khanza, Little Krishna, dan Arimbi, yang notabane adalah tokoh dari karya besar Mahabharata, menyusul kemudian Mak Lampir dan Gerandong dari cerita Misteri Gunung Merapi. Di samping itu, kostum dan lokasi kerajaan yang digunakan juga tidak mencerminkan era Hindu - Budha zaman Kerajaan Singhasari - Majapahit, melainkan lebih mirip era kerajaan Mataram Islam, sedangkan kebudayaannya pun mirip seperti campuran Melayu, India, dan China.

Selain campur aduk dan alurnya yang sangat kacau dari kisah asli, cerita Tutur Tinular versi 2011 ini kemudian juga sangat tidak manusiawi & tidak logis. Banyak hal-hal yang tidak lazim dan kejadian yang diluar nalar bermunculan, yaitu adanya tokoh dari benda-benda mati seperti siluman Sepatu,Wayang, Tongkat, dan Buah Kelapa yang semuanya bisa berbicara dan melakukan sesuatu layaknya manusia, antara tongkat Mak Lampir dan siluman Asap berpacaran bahkan kemudian bisa hamil. Berbagai macam binatang seperti Marmut, Anjing, Kucing, Burung, Ikan dan lain-lain juga berbicara, Bayi yang masih dalam kandungan sudah bisa berbicara, bahkan juga ada bayi yang lahir dan langsung dewasa, serta adanya pernikahan antara manusia dan bangsa Siluman Raksasa Arimbi dari kisah Pewayangan yang kemudian melahirkan bayi Bajang dan kemudian menikahi manusia lagi dan lain sebagainya, termasuk terdapat kata-kata kasar yang acapkali diucapkan, seperti bodoh, otak udang, pikir pakai dengkul, tolol, jancuk dan lain lain. Tak sampai disitu, ketika ratingnya menurun drastis dan sering terlempar dari 30 besar pada saat memasuki akhir-akhir episode,Wong Fei Hung, tokoh sejarah pahlawan dari negeri Cina pun dimasukkan. Tak mampu mendongkrak rating, akhirnya Genta Buana Paramita pun kembali membuat kegilaan dengan memasukkan tokoh fiksi pahlawan super dari Amerika, Batman lengkap dengan musuh bebuyutannya, Joker. Inilah kemudian yang membuat sinetron ini selalu menuai banyak kontroversi dan ramai dihujat diberbagai situs maupun jejaring sosial, karena dinilai tidak masuk akal, penjiplak, membuat stress dan tidak mendidik[10].
(sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Tutur_tinular)



Spoiler for bonus gambar









Gara-gara Batman, Tutur Tinular versi gado-gado pun dimuat Wikipedia 

Barusan ane cek wikipedia tentang tutur tinular gan, yg sekarang lagi gempar-gemparnya gara-gara munculnya si batman dan joker yg kesasar disitu. Pas ane cek page bagian bawah, ternyata tutur tinular versi gado-gado pun juga ikut dimuat . cek aja nih



Tutur Tinular versi 2012 (Versi Gado-gado)
Karena sukses besar pada serial televisi sebelumnya, pada tahun 2011, Tutur Tinular kembali diangkat dan dikemas dalam sebuah sinetron dengan warna yang berbeda menjadi sebuah serial laga oleh Genta Buana Paramita yang ditayangkan di Indosiar. Tutur Tinular Versi 2011 ini juga banyak melibatkan aktor dan aktris pendatang baru. Proses sulih suara yang menjadi ciri khas sinetron laga pun ditiadakan. Berbeda dengan versi lama tahun 1997 yang tayang satu minggu satu kali, maka versi 2011 ini tayang setiap hari dengan durasi selama 2 jam.

Meskipun pada awal penayangannya, sinetron ini sudah masuk dalam rating 10 besar program televisi pilihan di Indonesia. Namun serial yang salah satu Sutradaranya berasal dari India ini banyak menuai kritik dan protes dari masyarakat maupun para pecinta fanatik sandiwara Tutur Tinular. Hal ini dikarenakan alur cerita yang telah melenceng dari cerita aslinya yang sarat dengan kejadian-kejadian sejarah. Tutur Tinular versi 2011 lebih menonjolkan sisi fiktifnya saja seperti kisah percintaan dan konflik dalam keluarga, dengan selingan lagu dangdut seperti halnya film Bollywood India, serta bermunculan tokoh-tokoh baru yang tidak ada dalam versi sandiwara radio, seperti, pahlawan bertopeng, Respati dan Laksmi, juga Pangeran Bentar yang sebenarnya merupakan tokoh dalam cerita Saur Sepuh ciptaan Niki Kosasih, Dan setelah beberapa episode muncul juga beberapa tokoh yang diambil dari kisah atau legenda yang berbeda, seperti Khanza, Little Krishna, dan Arimbi, yang notabane adalah tokoh dari karya besar Mahabharata, menyusul kemudian Mak Lampir dan Gerandong dari cerita Misteri Gunung Merapi. Di samping itu, kostum dan lokasi kerajaan yang digunakan juga tidak mencerminkan era Hindu - Budha zaman Kerajaan Singhasari - Majapahit, melainkan lebih mirip era kerajaan Mataram Islam, sedangkan kebudayaannya pun mirip seperti campuran Melayu, India, dan China.

Selain campur aduk dan alurnya yang sangat kacau dari kisah asli, cerita Tutur Tinular versi 2011 ini kemudian juga sangat tidak manusiawi & tidak logis. Banyak hal-hal yang tidak lazim dan kejadian yang diluar nalar bermunculan, yaitu adanya tokoh dari benda-benda mati seperti siluman Sepatu,Wayang, Tongkat, dan Buah Kelapa yang semuanya bisa berbicara dan melakukan sesuatu layaknya manusia, antara tongkat Mak Lampir dan siluman Asap berpacaran bahkan kemudian bisa hamil. Berbagai macam binatang seperti Marmut, Anjing, Kucing, Burung, Ikan dan lain-lain juga berbicara, Bayi yang masih dalam kandungan sudah bisa berbicara, bahkan juga ada bayi yang lahir dan langsung dewasa, serta adanya pernikahan antara manusia dan bangsa Siluman Raksasa Arimbi dari kisah Pewayangan yang kemudian melahirkan bayi Bajang dan kemudian menikahi manusia lagi dan lain sebagainya, termasuk terdapat kata-kata kasar yang acapkali diucapkan, seperti bodoh, otak udang, pikir pakai dengkul, tolol, jancuk dan lain lain. Tak sampai disitu, ketika ratingnya menurun drastis dan sering terlempar dari 30 besar pada saat memasuki akhir-akhir episode,Wong Fei Hung, tokoh sejarah pahlawan dari negeri Cina pun dimasukkan. Tak mampu mendongkrak rating, akhirnya Genta Buana Paramita pun kembali membuat kegilaan dengan memasukkan tokoh fiksi pahlawan super dari Amerika, Batman lengkap dengan musuh bebuyutannya, Joker. Inilah kemudian yang membuat sinetron ini selalu menuai banyak kontroversi dan ramai dihujat diberbagai situs maupun jejaring sosial, karena dinilai tidak masuk akal, penjiplak, membuat stress dan tidak mendidik[10].
(sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Tutur_tinular)



Spoiler for bonus gambar








Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

[Moview-Review] Serdadu Kumbang - Sebuah potret pendidikan

[Moview-Review] Serdadu Kumbang - Sebuah Sindiran Dan Potret Pendidikan di Indonesia



Setelah hasil UNAS diumumkan, minun berkuda menuju bukit Mantar, menuju pohon harapan. Disitu tergantung begitu banyak botol-botol berisikan kertas yang bertulis cita-cita, bertulis impian.
Minun memanjat hingga tinggi berusaha menggapai botol impiannya, menggapai dan terus menggapai. Akankah Tuhan mengabulkan impiannya?


Di tengah maraknya ketidakjujuran dalam lembaga pendidikan, orang semakin mempertanyakan dan bersama-sama prihatin tentang kualitas pendidikan di negeri ini.

Ruang kelas hanyalah tempat mengajar dan bukan mendidik. Otak-otak siswa dibiarkan menyerap angka, hafalan dan logika tanpa diimbangi dengan keseimbangan moral dan kesejukan hati. Only knowledge but not life skill.

Akibatnya di negeri ini banyak orang pintar tapi tidak cerdas hati. Banyak sudah sederet panjang cacat moral yang hampir setiap hari menjadi headline di media massa. Bosan sekali rasanya..

Ari Sihasale dan Nia Zulkarnain begitu jeli dan peduli melihat fenomena ini, mereka pun konsisten memproduseri dan kadang menyutradarai sendiri film-film yang bernuansakan pendidikan. Yang paling baru adalah film yang bernama “Serdadu Kumbang”

Film ini mengisahkan seorang tokoh sentral bernama Amek (Yudi Miftahudin) , seorang anak SD berbibir sumbing yang punya cita-cita tinggi ingin menjadi penyiar berita. Hobinya adalah mendengarkan berita di TV dan “menyiarkan” nya kembali di jendela dengan frame kayu.

Ayah Amek adalah seorang TKI di Malaysia sedangkan ibunya penjual jajanan di kampung, kakaknya Minun adalah siswi SMP yang sangat cerdas.

Amek pandai sekali berhitung dan berkuda tapi sering bolos sekolah. Ia malas sekolah karena ia selalu dihukum push up dan lari keliling lapangan oleh Pak Alim (Lukman Sardi).

Bersama Amek kita diajak menjelajah 3 ruang, yang pertama cermin pendidikan di Indonesia, Yang Kedua karakter manusia yang majemuk, dan yang ketiga indahnya alam Sumbawa


Cermin pendidikan

  • Hukuman militer yang diterapkan Pak Alim tidak manusiawi, terlambat dihukum push up, sit up hingga ada yang pingsan karena kelelahan,  mendidikkah ini? Yang ada adalah Pak Alim menanamkan sifat kebencian
  • Pendidikan Alternatif : Ditunjukkan oleh Papin dan dan Bu Guru Imbok. Papin mengajarkan nilai-nilai moral dan agama dengan penuh kelembutan, anak-anak yang awalnya dianggap nakal sebenarnya mereka patuh dan taat. Bu Guru Imbok mengajarkan pendidikan untuk semua, baca tulis untuk masayarakat yang masih buta huruf, mengajar melalui cerita sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral dari yang dipelajari. Semuanya disampaikan dengan simpatik dan atraktif, walau ruang kelas hanya berada di bawah rumah panggung dengan alat tulis yang seadanya pula
  • Begitu horornya UNAS sehingga para orangtua menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan akidah, dan begitu horornya UNAS sehingga nasib seorang anak walau pandai dan berprestasi  bisa juga gagal dalam 3 hari
"Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan itu hah saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati" (Papin Haji Maesa)

Karakter yang majemuk

  • Ada bang Zakaria (Asrul Dahlan)  ayah Amek, cermin TKI yang pulang kampung, mentereng dengan emas imitasi, bercerita selama berhari-hari tentang kisah di tanah rantau, berubahnya dialek menjadi aksen Melayu.
  • Ada Papin / kakek Haji (Putu Wijaya) yang begitu kharismatik dan bijak. Amek yang punya kecerdasan aritmatik, Bu Guru Imbok (Ririn Ekawati) yang penuh dedikasi dan idealis, Kepala sekolah yang tidak tegas dan sering berbohong, Siti Aisyah (Titi Sjuman) ibu Amek yang gigih menghidupi keluarganya.

Indahnya Alam Sumbawa

  • Sumbawa memang elok dengan savanna, bukit ,pantai, dan lautnya. Masih asri dan alami. Ada 1 scene dimana Amek, Umbe dan Acan memancing di laut diatas perahu sambil beratapkan langit malam yang penuh bintang dan temaram rembulan
  • Kuda menjadi status social tersendiri bagi pemiliknya.
  • Saya pernah menyaksikan sendiri bahwa memang anak-anak banyak yang sudah mahir berkuda, menjadi joki di arena pacuan

Plus

Film ini menjadi air penyejuk di tengah jengahnya film horor dan erotism. Pas release di saat liburan sekolah, pas juga momennya di tengah isu Gadel. Idealis dan cukup konsisten keluar dari alur.
Pesan moral dari film ini
  • ·     jangan menyerah untuk mengejar cita-citamu, teruslah berusaha walau engkau dirundung keterbatasan dan kesedihan
  • ·    Pendidikan yang baik bukanlah sekadar nilai akademis akan tetapi juga nilai moral. Life Skills (keberanian, kesabaran, tidak mudah putus asa, integritas, social skills) yang membuat anak bertahan hidup dengan lebih baik, bijak dan bersahaja.

Minus

·        Kurang fokus. Sedikit melebar kemana-mana
       Adanya scene dengan Ketut memberikan pelajaran tentang hewan laut dan pelepasan penyu ke lautan lepas bersama-sama antara SD Mantar dan sekolah Elite terkesan dipaksakan. Yah memang mereka menjadi sponsor utama tapi ada upaya pencitraan sementara mereka / perusahaan asing terus mengeruk kekayaan di negeri ini dan kadang hingga mencemari lingkungan. The New VOC kata Pak Habibie

Overall merupakan tayangan yang cukup layak tonton. Semoga bisa menginspirasi
Rating versi @astu_MD : 7,2/10

Sindir Sistem Pendidikan

Zakaria, ayah dari seorang  anak yang berprestasi, dengan piala dan piagam penghargaan bertumpuk, marah meledak-ledak di pelataran sekolah SMP anaknya. Menyemprotkan amarahnya tepat di depan muka Pak Opan, sang kepala SMP tersebut. Minun, anak cerdas yang dibangga-banggakannya tak lulus Ujian Nasional (UN), pun semua teman seangkatannya, 100% tidak lulus.
Secuil kisah tersebut adalah adegan yang paling berkesan bagi saya ketika menyaksikan film Serdadu Kumbang. Selain tentu saja, banyak pesan-pesan positif lain yang sangat bermakna. Adegan tersebut memang berisi pesan klasik yang sering diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan nasional tentang bobroknya sistem Ujian Nasional. Klasik, tapi memang sangat tepat Ari Sihasale (Ale) mengangkatnya lagi dalam filmnya ini. Perjuangan TIGA TAHUN, hasilnya ditentukan hanya dalam waktu TIGA HARI saja.
Gantungkan cita-cita setinggi langit, jangan cuma sampai di dahan-dahan pohon saja. Amek, Acan, dan Umbe dengan berbagai keterbatasan dan kelebihannya berhasil ditampilkan oleh Ale menjadi contoh yang baik bagi anak-anak bangsa ini untuk tidak pernah berhenti bercita-cita.
Sedikit kritik dari saya yang awam di dunia perfilman, Serdadu Kumbang masih seperti film Indonesia kabanyakan, yang plot dan alur ceritanya terkesan kabur dan tidak jelas. Perpindahan plot terkesan saling loncat. Pun pengenalan tokoh-tokoh dalam film yang terkesan seadanya. Sebagai contoh, tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra (saya sampai lupa nama tokoh itu) yang awalanya saya kira memiliki bagian yang kuat dalam film ini, hanya tampil selintas saja tanpa meninggalkan pengaruh pada tema film. Mungkin ini bisa difahami, mengingat PT Newmont Nusa Tenggara (perusahaan tempat sang tokoh bekerja) turut mensponsori film ini.
Namun, pada akhirnya saya pribadi tetap memberikan dua acungan jempol bagi duet kompak Ari Sihasale dan Nia Zulkarnae yang konsisten dan memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi bagi perbaikan pendidikan nasional. Paling tidak ini dibuktikan dengan karya-karya mereka yang cukup bagus, sebut saja Denias Senandung di atas Awan, Garuda di Dadaku, Liburan Seru (2008), King (2009), dan Tanah Air Beta (2010).
Semoga makin banyak sineas-sineas negeri ini yang menghasilkan karya serupa di tengah serbuan film-film horor yang sama sekali tak mendidik.






















[Moview-Review] Serdadu Kumbang - Sebuah Sindiran Dan Potret Pendidikan di Indonesia



Setelah hasil UNAS diumumkan, minun berkuda menuju bukit Mantar, menuju pohon harapan. Disitu tergantung begitu banyak botol-botol berisikan kertas yang bertulis cita-cita, bertulis impian.
Minun memanjat hingga tinggi berusaha menggapai botol impiannya, menggapai dan terus menggapai. Akankah Tuhan mengabulkan impiannya?


Di tengah maraknya ketidakjujuran dalam lembaga pendidikan, orang semakin mempertanyakan dan bersama-sama prihatin tentang kualitas pendidikan di negeri ini.

Ruang kelas hanyalah tempat mengajar dan bukan mendidik. Otak-otak siswa dibiarkan menyerap angka, hafalan dan logika tanpa diimbangi dengan keseimbangan moral dan kesejukan hati. Only knowledge but not life skill.

Akibatnya di negeri ini banyak orang pintar tapi tidak cerdas hati. Banyak sudah sederet panjang cacat moral yang hampir setiap hari menjadi headline di media massa. Bosan sekali rasanya..

Ari Sihasale dan Nia Zulkarnain begitu jeli dan peduli melihat fenomena ini, mereka pun konsisten memproduseri dan kadang menyutradarai sendiri film-film yang bernuansakan pendidikan. Yang paling baru adalah film yang bernama “Serdadu Kumbang”

Film ini mengisahkan seorang tokoh sentral bernama Amek (Yudi Miftahudin) , seorang anak SD berbibir sumbing yang punya cita-cita tinggi ingin menjadi penyiar berita. Hobinya adalah mendengarkan berita di TV dan “menyiarkan” nya kembali di jendela dengan frame kayu.

Ayah Amek adalah seorang TKI di Malaysia sedangkan ibunya penjual jajanan di kampung, kakaknya Minun adalah siswi SMP yang sangat cerdas.

Amek pandai sekali berhitung dan berkuda tapi sering bolos sekolah. Ia malas sekolah karena ia selalu dihukum push up dan lari keliling lapangan oleh Pak Alim (Lukman Sardi).

Bersama Amek kita diajak menjelajah 3 ruang, yang pertama cermin pendidikan di Indonesia, Yang Kedua karakter manusia yang majemuk, dan yang ketiga indahnya alam Sumbawa


Cermin pendidikan

  • Hukuman militer yang diterapkan Pak Alim tidak manusiawi, terlambat dihukum push up, sit up hingga ada yang pingsan karena kelelahan,  mendidikkah ini? Yang ada adalah Pak Alim menanamkan sifat kebencian
  • Pendidikan Alternatif : Ditunjukkan oleh Papin dan dan Bu Guru Imbok. Papin mengajarkan nilai-nilai moral dan agama dengan penuh kelembutan, anak-anak yang awalnya dianggap nakal sebenarnya mereka patuh dan taat. Bu Guru Imbok mengajarkan pendidikan untuk semua, baca tulis untuk masayarakat yang masih buta huruf, mengajar melalui cerita sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral dari yang dipelajari. Semuanya disampaikan dengan simpatik dan atraktif, walau ruang kelas hanya berada di bawah rumah panggung dengan alat tulis yang seadanya pula
  • Begitu horornya UNAS sehingga para orangtua menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan akidah, dan begitu horornya UNAS sehingga nasib seorang anak walau pandai dan berprestasi  bisa juga gagal dalam 3 hari
"Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan itu hah saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati" (Papin Haji Maesa)

Karakter yang majemuk

  • Ada bang Zakaria (Asrul Dahlan)  ayah Amek, cermin TKI yang pulang kampung, mentereng dengan emas imitasi, bercerita selama berhari-hari tentang kisah di tanah rantau, berubahnya dialek menjadi aksen Melayu.
  • Ada Papin / kakek Haji (Putu Wijaya) yang begitu kharismatik dan bijak. Amek yang punya kecerdasan aritmatik, Bu Guru Imbok (Ririn Ekawati) yang penuh dedikasi dan idealis, Kepala sekolah yang tidak tegas dan sering berbohong, Siti Aisyah (Titi Sjuman) ibu Amek yang gigih menghidupi keluarganya.

Indahnya Alam Sumbawa

  • Sumbawa memang elok dengan savanna, bukit ,pantai, dan lautnya. Masih asri dan alami. Ada 1 scene dimana Amek, Umbe dan Acan memancing di laut diatas perahu sambil beratapkan langit malam yang penuh bintang dan temaram rembulan
  • Kuda menjadi status social tersendiri bagi pemiliknya.
  • Saya pernah menyaksikan sendiri bahwa memang anak-anak banyak yang sudah mahir berkuda, menjadi joki di arena pacuan

Plus

Film ini menjadi air penyejuk di tengah jengahnya film horor dan erotism. Pas release di saat liburan sekolah, pas juga momennya di tengah isu Gadel. Idealis dan cukup konsisten keluar dari alur.
Pesan moral dari film ini
  • ·     jangan menyerah untuk mengejar cita-citamu, teruslah berusaha walau engkau dirundung keterbatasan dan kesedihan
  • ·    Pendidikan yang baik bukanlah sekadar nilai akademis akan tetapi juga nilai moral. Life Skills (keberanian, kesabaran, tidak mudah putus asa, integritas, social skills) yang membuat anak bertahan hidup dengan lebih baik, bijak dan bersahaja.

Minus

·        Kurang fokus. Sedikit melebar kemana-mana
       Adanya scene dengan Ketut memberikan pelajaran tentang hewan laut dan pelepasan penyu ke lautan lepas bersama-sama antara SD Mantar dan sekolah Elite terkesan dipaksakan. Yah memang mereka menjadi sponsor utama tapi ada upaya pencitraan sementara mereka / perusahaan asing terus mengeruk kekayaan di negeri ini dan kadang hingga mencemari lingkungan. The New VOC kata Pak Habibie

Overall merupakan tayangan yang cukup layak tonton. Semoga bisa menginspirasi
Rating versi @astu_MD : 7,2/10

Sindir Sistem Pendidikan

Zakaria, ayah dari seorang  anak yang berprestasi, dengan piala dan piagam penghargaan bertumpuk, marah meledak-ledak di pelataran sekolah SMP anaknya. Menyemprotkan amarahnya tepat di depan muka Pak Opan, sang kepala SMP tersebut. Minun, anak cerdas yang dibangga-banggakannya tak lulus Ujian Nasional (UN), pun semua teman seangkatannya, 100% tidak lulus.
Secuil kisah tersebut adalah adegan yang paling berkesan bagi saya ketika menyaksikan film Serdadu Kumbang. Selain tentu saja, banyak pesan-pesan positif lain yang sangat bermakna. Adegan tersebut memang berisi pesan klasik yang sering diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan nasional tentang bobroknya sistem Ujian Nasional. Klasik, tapi memang sangat tepat Ari Sihasale (Ale) mengangkatnya lagi dalam filmnya ini. Perjuangan TIGA TAHUN, hasilnya ditentukan hanya dalam waktu TIGA HARI saja.
Gantungkan cita-cita setinggi langit, jangan cuma sampai di dahan-dahan pohon saja. Amek, Acan, dan Umbe dengan berbagai keterbatasan dan kelebihannya berhasil ditampilkan oleh Ale menjadi contoh yang baik bagi anak-anak bangsa ini untuk tidak pernah berhenti bercita-cita.
Sedikit kritik dari saya yang awam di dunia perfilman, Serdadu Kumbang masih seperti film Indonesia kabanyakan, yang plot dan alur ceritanya terkesan kabur dan tidak jelas. Perpindahan plot terkesan saling loncat. Pun pengenalan tokoh-tokoh dalam film yang terkesan seadanya. Sebagai contoh, tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra (saya sampai lupa nama tokoh itu) yang awalanya saya kira memiliki bagian yang kuat dalam film ini, hanya tampil selintas saja tanpa meninggalkan pengaruh pada tema film. Mungkin ini bisa difahami, mengingat PT Newmont Nusa Tenggara (perusahaan tempat sang tokoh bekerja) turut mensponsori film ini.
Namun, pada akhirnya saya pribadi tetap memberikan dua acungan jempol bagi duet kompak Ari Sihasale dan Nia Zulkarnae yang konsisten dan memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi bagi perbaikan pendidikan nasional. Paling tidak ini dibuktikan dengan karya-karya mereka yang cukup bagus, sebut saja Denias Senandung di atas Awan, Garuda di Dadaku, Liburan Seru (2008), King (2009), dan Tanah Air Beta (2010).
Semoga makin banyak sineas-sineas negeri ini yang menghasilkan karya serupa di tengah serbuan film-film horor yang sama sekali tak mendidik.






















Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Radio FM

Followers

Entri Terpopuler

Label

animasi beregerak naruto
animasi beregerak naruto