WELCOME TO Frisdiandi Blog
    Facebook Twitter Feedburner Google +1 Mail

Terjemahkan Kebahasa

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianBrazilJapaneseKoreanArabicChinese Simplified
Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Lebih Susah Sukses Kalau Kita Sekolah

Lebih Susah Sukses Kalau Kita Sekolah


Ada yang melontarkan pernyataan seperti ini: Sukses memang susah, tapi lebih susah lagi kalau sukses tanpa sekolah.

Kebenaran memang bersifat relatif. Saya tidak berniat melakukan generalisasi. Saya hanya ingin menunjukkan kontra dari argumen di atas.

Bob Sadino, seorang entrepreneur terkemuka Indonesia justru memberikan nasehat seperti ini: kalau mau sukses, saya katakan pada kamu; besok kamu keluar sekolah.

Lawrence Ellison, pengusaha yang langganan jadi 10 orang terkaya di dunia berpesan kepada para mahasiswa: kemasilah barang dan isi benakmu dan keluar (sekolah) sekarang juga.
Robert T. Kiyosaki, seorang pengajar ilmu kekayaan ternama, menulis buku bestseller yang berjudul, “If you want to be rich and happy, don’t go to school.”

Soichiro Honda, pendiri perusahaan yang merajai pasar otomotif dunia pernah berkata dalam satu wawancara, “Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui.”

John Lennon, musisi legendaris dunia, pernah menulis dalam buku hariannya:
“Disekolah, tidakkah mereka melihat bahwa aku jauh lebih pintar dari murid-murid lainya? Tidakkah mereka melihat bahwa para guru itulah sebenarnya yang bodoh..? Bahwa segala informasi yang mereka miliki dan ajarkan itu sama sekali tidak aku butuhkan. Ini sangat jelas bagiku.”

Bill Gates merasa kalau sekolah/kuliah justru memperlambat kecepatan suksesnya. Maka orang yang pada akhirnya jadi langganan nomor 1 terkaya di dunia ini cepat-cepat keluar dari Harvard University. Demikian pula tokoh terbaru dunia internet, Mark Zuckerberg, punya anggapan kuliahnya hanya akan mengganggu fokusnya terhadap pengembangan facebook. Jadi dia ikuti jejak seniornya dengan DO dari universitas yang sama.

Bagi Pele, pemain bola terbesar sepanjang masa, sekolah cuma mengganggu perjalanan suksesnya. Saat kelas empat SD dia cabut saja dari situ untuk lebih mudah meraih cita-cita, sebagai peraih tiga Piala Dunia (sepanjang masa hanya Pele yang bisa melakukannya. Jauh lebih baik dibanding nggak pernah lolos sekalipun ke PD).

Michael Jackson nggak pernah sekolah. Dan pastinya jika dia sekolah kujamin akan membuatnya lebih susah untuk jadi penyanyi pop terbesar sepanjang masa (bayangin aja kan waktunya buat nyanyi dan menyempurnakan dance dan vokalnya malah dihabiskan buat sekolah). Demikian pula eminem. Sekolah cuma menyusahkannya saja untuk jadi rapper paling terkenal. Dia keluar waktu SMA. Bob Marley, legenda musik reggae nomor satu, malah keluar lebih cepat yaitu sewaktu SMP.

Saya tuliskan di sini: manusia terlalu beragam untuk dipaksakan berada di satu tempat yang sama. Dengan kata lain, aku tidak setuju kalau semua orang wajib buat sekolah. Aku tidak setuju kalau sekolah disamakan dengan pendidikan. Dan akan kuperjuangkan prinsip ini selama aku masih hidup. Walau aku tak tahu apa yang bakal terjadi nanti. Hidup itu berproses.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca wacana baru, yaitu sebuah buku berjudul Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat. James Marcus Bach, penulisnya, memberi nasehat kepada kita, “Pendidikan memang penting, tetapi sekolah tidak.”

Lebih Susah Sukses Kalau Kita Sekolah


Ada yang melontarkan pernyataan seperti ini: Sukses memang susah, tapi lebih susah lagi kalau sukses tanpa sekolah.

Kebenaran memang bersifat relatif. Saya tidak berniat melakukan generalisasi. Saya hanya ingin menunjukkan kontra dari argumen di atas.

Bob Sadino, seorang entrepreneur terkemuka Indonesia justru memberikan nasehat seperti ini: kalau mau sukses, saya katakan pada kamu; besok kamu keluar sekolah.

Lawrence Ellison, pengusaha yang langganan jadi 10 orang terkaya di dunia berpesan kepada para mahasiswa: kemasilah barang dan isi benakmu dan keluar (sekolah) sekarang juga.
Robert T. Kiyosaki, seorang pengajar ilmu kekayaan ternama, menulis buku bestseller yang berjudul, “If you want to be rich and happy, don’t go to school.”

Soichiro Honda, pendiri perusahaan yang merajai pasar otomotif dunia pernah berkata dalam satu wawancara, “Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui.”

John Lennon, musisi legendaris dunia, pernah menulis dalam buku hariannya:
“Disekolah, tidakkah mereka melihat bahwa aku jauh lebih pintar dari murid-murid lainya? Tidakkah mereka melihat bahwa para guru itulah sebenarnya yang bodoh..? Bahwa segala informasi yang mereka miliki dan ajarkan itu sama sekali tidak aku butuhkan. Ini sangat jelas bagiku.”

Bill Gates merasa kalau sekolah/kuliah justru memperlambat kecepatan suksesnya. Maka orang yang pada akhirnya jadi langganan nomor 1 terkaya di dunia ini cepat-cepat keluar dari Harvard University. Demikian pula tokoh terbaru dunia internet, Mark Zuckerberg, punya anggapan kuliahnya hanya akan mengganggu fokusnya terhadap pengembangan facebook. Jadi dia ikuti jejak seniornya dengan DO dari universitas yang sama.

Bagi Pele, pemain bola terbesar sepanjang masa, sekolah cuma mengganggu perjalanan suksesnya. Saat kelas empat SD dia cabut saja dari situ untuk lebih mudah meraih cita-cita, sebagai peraih tiga Piala Dunia (sepanjang masa hanya Pele yang bisa melakukannya. Jauh lebih baik dibanding nggak pernah lolos sekalipun ke PD).

Michael Jackson nggak pernah sekolah. Dan pastinya jika dia sekolah kujamin akan membuatnya lebih susah untuk jadi penyanyi pop terbesar sepanjang masa (bayangin aja kan waktunya buat nyanyi dan menyempurnakan dance dan vokalnya malah dihabiskan buat sekolah). Demikian pula eminem. Sekolah cuma menyusahkannya saja untuk jadi rapper paling terkenal. Dia keluar waktu SMA. Bob Marley, legenda musik reggae nomor satu, malah keluar lebih cepat yaitu sewaktu SMP.

Saya tuliskan di sini: manusia terlalu beragam untuk dipaksakan berada di satu tempat yang sama. Dengan kata lain, aku tidak setuju kalau semua orang wajib buat sekolah. Aku tidak setuju kalau sekolah disamakan dengan pendidikan. Dan akan kuperjuangkan prinsip ini selama aku masih hidup. Walau aku tak tahu apa yang bakal terjadi nanti. Hidup itu berproses.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca wacana baru, yaitu sebuah buku berjudul Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat. James Marcus Bach, penulisnya, memberi nasehat kepada kita, “Pendidikan memang penting, tetapi sekolah tidak.”
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Arti Jenius Sebenarnya


Apa Sih Arti Jenius Menurut Anda..???
Mampukah Sekolah-sekolah di Indonesia melahirkan anak Jenius Dunia..???
inilah jawabanya:

Dari hasil talkshow yang pernah saya lihat, terlihat bahwa banyak anak-anak Indonesia yg berpikir bahwa JENIUS itu adalah apa bila berhasil menguasai semua mata pelajaran di sekolah dengan nilai bagus.

Sementara jika PARA JENIUS DUNIA SENDIRI DI TANYA TENTANG APA ARTI JENIUS MENURUT DIRINYA maka beginilah komentar mereka:


  1. Albert Einstein Jenius dalam bidang Fisika Quantum:  Jenius adalah apa bila kita selalu menggunakan otak kita untuk berpikir menciptakan sesuatu yg belum pernah di ciptakan oleh orang lain di dunia ini.
  2. Thomas Alfa Edison Jenius Mekanika Elektronika dengan 1000 temuan yg di patenkan:  Jenius adalah  1% ide dan kemauan dan 99% Kerja keras.
  3. Steven Spielberg Jenius Sinematografi pencipta film-film BOX OFFICE ET, Jurasic Park, Transformer dll :  Jenius adalah apa bila ada melakukan aktivitas yg anda sukai dengan sepenuh jiwa.
  4. Tiger Woods Jenius Golf  Hole in one:  Jenius adalah ”To love my play”  Menikmati permainanku.
  5. Leonardo Da Vinci Jenius di berbagai bidang, seni lukis, ukir, pahat logam, arsitek kota, pembuat senjata, atlet penunggang kuda, Biologi, anatomi, astronomi, Chemist, Pengobatan hingga memasak:   Jenius adalah Falling in love with Science.
  6. Vincent Van Goh Jenius Seni lukis:  Jenius adalah beda2 tipis antara pintar dan sinting.
  7. Sir Winston Churchil Jenius Leadership dan Strategi Perang:  Jenius adalah Tidak mengenal kata menyerah.
  8. Prof Howard Gardner Professor di bidang Pendidikan dan Psikologi dr Harvard, pencetus teori Multiple Intelligences:  Jenius adalah potensi bawaan lahir yg dimiliki oleh setiap anak, yg berhasil di gali dan di kembangkan sampai tingkat maksimal oleh orang tua dan lingkungannya.


Banyak lagi komentar dari para jenius dunia lainnya seperti Kahlil Gibran, Stephen Hawking, Mozart tentang jenius.... yg ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan Makna Jenius yg di pahami oleh anak-anak di sekolah.

Yang mengerikan adalah anak-anak memaknai Jenius adalah :


  • Nilai baik di semua pelajaran;  padahal nilai itu sendiri berasal dari soal-soal yg sudah ada jawabannya di buku itu artinya sangat bertentangan dengan pendapat Albert Einstein tentang Jenius.
  • Nilai baik di semua pelajaran: padahal para jenius itu rata-rata hanya ahli di satu bidang saja, hanya 1 orang di dunia yg bernama Leonardo Da Vinci yg Jenius hampir di banyak bidang tapi bukan mata pelajaran.
  • Nilai baik di semua pelajaran: itu artinya tiap anak harus mencintai semua bidang mata pelajaran meskipun faktanya belum pernah ada murid yg menyukai semua pelajaran termasuk para jenius dunia sendiri.
  • Mana ada orang2 terkenal dan maestro dunia yg hebat di berbagai bidang.  Masih ingatkah dengan perbedaan 3 Rudy:  Rudy Hadi Suwarno( penata rambut professional ), Rudy Choirodin ( koki) dan Rudi Hartono( pebulu tangkis )...?
  • Anak-anak Indonesia menganggap bahwa jenius adalah milik segelintir orang dan anugrah Tuhan hanya pada anak-anak tertentu.  Padahal fakta penelitian dari Prof. Howard Garner menunjukkan bahwa setiap anak berpotensi untuk jadi jenius, tapi orang tua dan lingkunganlah yg sering kali telah membunuh potensi jenius mereka.

Jadi anak-anak Indonesia harus di dukung sesuai dengan kemampuan di bidang tertentu yang di sukainya  bukan untuk mempelajari semua hal yang belum tentu di sukainya di sekolah
Jika anak-anak, para orang tua dan guru-guru di Indonesia masih memahami bahwa jenius adalah nilai bagus di semua mata pelajaran maka ini bisa di pastikan bahwa Sekolah-sekolah di Indonesia tidak akan pernah bisa melahirkan anak-anak jenius Sekaliber Einstein, Mozart, Thomas Alfa Edison dsb....

Wassalam


Apa Sih Arti Jenius Menurut Anda..???
Mampukah Sekolah-sekolah di Indonesia melahirkan anak Jenius Dunia..???
inilah jawabanya:

Dari hasil talkshow yang pernah saya lihat, terlihat bahwa banyak anak-anak Indonesia yg berpikir bahwa JENIUS itu adalah apa bila berhasil menguasai semua mata pelajaran di sekolah dengan nilai bagus.

Sementara jika PARA JENIUS DUNIA SENDIRI DI TANYA TENTANG APA ARTI JENIUS MENURUT DIRINYA maka beginilah komentar mereka:


  1. Albert Einstein Jenius dalam bidang Fisika Quantum:  Jenius adalah apa bila kita selalu menggunakan otak kita untuk berpikir menciptakan sesuatu yg belum pernah di ciptakan oleh orang lain di dunia ini.
  2. Thomas Alfa Edison Jenius Mekanika Elektronika dengan 1000 temuan yg di patenkan:  Jenius adalah  1% ide dan kemauan dan 99% Kerja keras.
  3. Steven Spielberg Jenius Sinematografi pencipta film-film BOX OFFICE ET, Jurasic Park, Transformer dll :  Jenius adalah apa bila ada melakukan aktivitas yg anda sukai dengan sepenuh jiwa.
  4. Tiger Woods Jenius Golf  Hole in one:  Jenius adalah ”To love my play”  Menikmati permainanku.
  5. Leonardo Da Vinci Jenius di berbagai bidang, seni lukis, ukir, pahat logam, arsitek kota, pembuat senjata, atlet penunggang kuda, Biologi, anatomi, astronomi, Chemist, Pengobatan hingga memasak:   Jenius adalah Falling in love with Science.
  6. Vincent Van Goh Jenius Seni lukis:  Jenius adalah beda2 tipis antara pintar dan sinting.
  7. Sir Winston Churchil Jenius Leadership dan Strategi Perang:  Jenius adalah Tidak mengenal kata menyerah.
  8. Prof Howard Gardner Professor di bidang Pendidikan dan Psikologi dr Harvard, pencetus teori Multiple Intelligences:  Jenius adalah potensi bawaan lahir yg dimiliki oleh setiap anak, yg berhasil di gali dan di kembangkan sampai tingkat maksimal oleh orang tua dan lingkungannya.


Banyak lagi komentar dari para jenius dunia lainnya seperti Kahlil Gibran, Stephen Hawking, Mozart tentang jenius.... yg ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan Makna Jenius yg di pahami oleh anak-anak di sekolah.

Yang mengerikan adalah anak-anak memaknai Jenius adalah :


  • Nilai baik di semua pelajaran;  padahal nilai itu sendiri berasal dari soal-soal yg sudah ada jawabannya di buku itu artinya sangat bertentangan dengan pendapat Albert Einstein tentang Jenius.
  • Nilai baik di semua pelajaran: padahal para jenius itu rata-rata hanya ahli di satu bidang saja, hanya 1 orang di dunia yg bernama Leonardo Da Vinci yg Jenius hampir di banyak bidang tapi bukan mata pelajaran.
  • Nilai baik di semua pelajaran: itu artinya tiap anak harus mencintai semua bidang mata pelajaran meskipun faktanya belum pernah ada murid yg menyukai semua pelajaran termasuk para jenius dunia sendiri.
  • Mana ada orang2 terkenal dan maestro dunia yg hebat di berbagai bidang.  Masih ingatkah dengan perbedaan 3 Rudy:  Rudy Hadi Suwarno( penata rambut professional ), Rudy Choirodin ( koki) dan Rudi Hartono( pebulu tangkis )...?
  • Anak-anak Indonesia menganggap bahwa jenius adalah milik segelintir orang dan anugrah Tuhan hanya pada anak-anak tertentu.  Padahal fakta penelitian dari Prof. Howard Garner menunjukkan bahwa setiap anak berpotensi untuk jadi jenius, tapi orang tua dan lingkunganlah yg sering kali telah membunuh potensi jenius mereka.

Jadi anak-anak Indonesia harus di dukung sesuai dengan kemampuan di bidang tertentu yang di sukainya  bukan untuk mempelajari semua hal yang belum tentu di sukainya di sekolah
Jika anak-anak, para orang tua dan guru-guru di Indonesia masih memahami bahwa jenius adalah nilai bagus di semua mata pelajaran maka ini bisa di pastikan bahwa Sekolah-sekolah di Indonesia tidak akan pernah bisa melahirkan anak-anak jenius Sekaliber Einstein, Mozart, Thomas Alfa Edison dsb....

Wassalam

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Keagungan Dan Kemuliaan Seorang Muhammad S.A.W


m0q0gg78



Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang.”

Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
“Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’)

Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata,
”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah baginda bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”
“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit…”
desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Rasulullah s. a. w. bersabda, “Sampaikan pesanku walau sepotong ayat”


m0q0gg78



Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang.”

Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
“Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’)

Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata,
”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah baginda bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”
“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit…”
desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Rasulullah s. a. w. bersabda, “Sampaikan pesanku walau sepotong ayat”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Topik Spesial Untuk Sekolah Ku Tercinta


     Khusus untuk Topik yang baru-baru ini saya share kepada anda-anda sekalian yang bertema Schools (untuk lebih lengkap klik link ini), topik ini tidak ada unsur apapun, tapi hanya menyadarkan masyarakat kalau sekarang sekolah di Indonesia Sudah sangat sangat TERPURUK, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak lulus ujian T.O minggu lalu, tapi ini hanya memperlihatkan kepada masyarakat bahwa inilah TEMPAT MENUNTUT ILMU yang di percayai oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan anak mereka sukses, bahagia, dan kaya raya.

     Tapi nyatanya "TIDAK" sekolah di Indonesia hanya mengajarkan hal hal yang membosankan dan tidak berguna untuk masa depan kita nanti, pernah oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi” itu adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia telah di program untuk menjadi PNS, dan yang paling berbahaya lagi sekolah sangat mementingkan "NILAI" karena Nilai ujian yang lebih diutamakan daripada proses pembelajaran

     Dan lain halnya dengan beberapa guru-guru yang selalu memakai TOPENG dia mengatakan hal-hal yang munafik seperti "tidak boleh menyontek, menyontek itu haram" atau "nanti siapa yang mencontek harus keluar"dan sebagainya, TETAPI setelah guru-guru tersebut mengawas pada saat ujian, mereka entah pura-pura tidak tahu atau bagaimana(yang jelas mereka pasti tahu), seolah olah mereka tidak tahu, dengan kepura-puraan tersebut mereka seperti membuka peluang nyontek kepada murid-muridnya, entah itu mereka pergi keluar atau pura-pura mengobrol dengan guru lainya yang mengawas, lalu deengan makna yang tersirat tersebut mereka membiarkan para murid MENYONTEK, MELIHAT BUKU, DAN ADA PULA YANG SMS-an dengan teman atau orang tuanya yang kebetulan seorang guru, Apakah itu Namanya seorang Guru, apakah Pantas seorang guru bertindak seperti itu, entah mereka mau mengharumkan kembali nama sekolah yang mungkin telah ternoda itu dengan mengajarkan para siswa berbohong dengan cara curang seperti di atas. 

     Contohnya: ada sebuah sekolah, sekolah tersebut telah melaksanakan 2 kali ujian, dari hasil ujian yang pertama sampai yang kedua mengalami kenaikan yang sangat drastis. Pada ujian pertama yang terdiri dari 5 paket soal, meluluskan hanya 20% dari keseluruhan murid kelas 9 di sekolah trsb, tapi di waktu ujian ke 2 di laksanakan, yang soalnya terdiri dari 2 paket soal, jumlah murid yang lulus meningkat hingga 60% WAW fantastis sekali bukan, apakah yang terjadi pada saat ujian tersebut? apakah para muridnya melakukan kecurangan? Wallahu alam bissawab, ini bukanlah hasil rekayasa saya sendiri, karena SAYA BERANI MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAAN TERSEBUT, karena itu adalah FAKTA, lalu apakah semua siswa yang lulus(yang lulus bukan dari hasil jerih payahnya sendiri) itu PINTAR dan siswa yang Tidak lulus(tetapi ini adalah hasil murni dari jerih payahnya bukan karena kecurangan2) itu BODOH?,  Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus
 hanya untuk sebagai pengisi IJAZAH yang merupakan selembar kertas SAMPAH yang menjerumuskan masyarakat. MENGAPA,karena jika IJAZAH di isi dengan kecurangan kecurangan, maka isinya sama dengan SAMPAH dan dapat menjerumuskan masyarakat seperti seorang Guru yang Selalu memakai buku (alias materi tidak dikuasai olehnya, karena itu dia hanya membacakan buku tersebut.) ketika  menerangkan pelajaran kepada siswa-siswinya karena ketidak matanganya untuk menjadi seorang guru (entah mungkin karena dia selalu mencontek saat ujian? )

     Memang Menyontek itu adalah hal yang telah membudaya di Indonesia, tetapi kalau menyontek di perbolehkan, lebih baik kita tidak perlu belajar(maksudnya belajar di SEKOALAH), pas ada ujian bagikan saja kunci jawabanya langsung, tidak susah-susahkan kalau hanya untuk mendapatkan nilai?, karena pada kenyataanya menyontek dan melihat kunci itu adalah sama-sama suatu KECURAANGAN. jadi umpamanya ada seorang murid yang jadi KORUPTOR (persamaan Korupsi dan Mencontek silahkan klik post saya ini) siapakah yang patut di persalahkan.?

MAU DI BAWA KEMANA PENDIDIKAN DI INDONESIA KITA INI ?...     
     Yang saya maksud "GURU" dalam pernyataan diatas adalah guru-guru yang melakukan perbuatan seperti yang saya sebutkan tadi, bukan SELURUH GURU YANG ADA DI INDONESIA, dan tidak dapat di pungkiri betapa banyak jeritan2 rakyat yang tidak di dengar oleh para pemimpin2 besar (ya, mungkin seperti jeritan saya ini ^_^), ini hanya sekedar memberitahukan kepada masyarakat dan para guru-guru yang lain agar mengharamkan perbuatan tercela tersebut.

Dan memang pendidikan sangat penting tetapi sekolah tidak penting
Insyaallah kalau ada kesempatan lain saya akan mengupdate terus blog saya.

untuk lebih lengkap lagi silahkan mengunjungi link ini school


Salam hangat dari Seorang Siswa yang merasakan keganasan sekolah yang telah menyerang secara
membabi buta.


Student from SMPN1 P.P


Admin
Ad-Lee
wassalam

     Khusus untuk Topik yang baru-baru ini saya share kepada anda-anda sekalian yang bertema Schools (untuk lebih lengkap klik link ini), topik ini tidak ada unsur apapun, tapi hanya menyadarkan masyarakat kalau sekarang sekolah di Indonesia Sudah sangat sangat TERPURUK, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak lulus ujian T.O minggu lalu, tapi ini hanya memperlihatkan kepada masyarakat bahwa inilah TEMPAT MENUNTUT ILMU yang di percayai oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan anak mereka sukses, bahagia, dan kaya raya.

     Tapi nyatanya "TIDAK" sekolah di Indonesia hanya mengajarkan hal hal yang membosankan dan tidak berguna untuk masa depan kita nanti, pernah oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi” itu adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia telah di program untuk menjadi PNS, dan yang paling berbahaya lagi sekolah sangat mementingkan "NILAI" karena Nilai ujian yang lebih diutamakan daripada proses pembelajaran

     Dan lain halnya dengan beberapa guru-guru yang selalu memakai TOPENG dia mengatakan hal-hal yang munafik seperti "tidak boleh menyontek, menyontek itu haram" atau "nanti siapa yang mencontek harus keluar"dan sebagainya, TETAPI setelah guru-guru tersebut mengawas pada saat ujian, mereka entah pura-pura tidak tahu atau bagaimana(yang jelas mereka pasti tahu), seolah olah mereka tidak tahu, dengan kepura-puraan tersebut mereka seperti membuka peluang nyontek kepada murid-muridnya, entah itu mereka pergi keluar atau pura-pura mengobrol dengan guru lainya yang mengawas, lalu deengan makna yang tersirat tersebut mereka membiarkan para murid MENYONTEK, MELIHAT BUKU, DAN ADA PULA YANG SMS-an dengan teman atau orang tuanya yang kebetulan seorang guru, Apakah itu Namanya seorang Guru, apakah Pantas seorang guru bertindak seperti itu, entah mereka mau mengharumkan kembali nama sekolah yang mungkin telah ternoda itu dengan mengajarkan para siswa berbohong dengan cara curang seperti di atas. 

     Contohnya: ada sebuah sekolah, sekolah tersebut telah melaksanakan 2 kali ujian, dari hasil ujian yang pertama sampai yang kedua mengalami kenaikan yang sangat drastis. Pada ujian pertama yang terdiri dari 5 paket soal, meluluskan hanya 20% dari keseluruhan murid kelas 9 di sekolah trsb, tapi di waktu ujian ke 2 di laksanakan, yang soalnya terdiri dari 2 paket soal, jumlah murid yang lulus meningkat hingga 60% WAW fantastis sekali bukan, apakah yang terjadi pada saat ujian tersebut? apakah para muridnya melakukan kecurangan? Wallahu alam bissawab, ini bukanlah hasil rekayasa saya sendiri, karena SAYA BERANI MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAAN TERSEBUT, karena itu adalah FAKTA, lalu apakah semua siswa yang lulus(yang lulus bukan dari hasil jerih payahnya sendiri) itu PINTAR dan siswa yang Tidak lulus(tetapi ini adalah hasil murni dari jerih payahnya bukan karena kecurangan2) itu BODOH?,  Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus
 hanya untuk sebagai pengisi IJAZAH yang merupakan selembar kertas SAMPAH yang menjerumuskan masyarakat. MENGAPA,karena jika IJAZAH di isi dengan kecurangan kecurangan, maka isinya sama dengan SAMPAH dan dapat menjerumuskan masyarakat seperti seorang Guru yang Selalu memakai buku (alias materi tidak dikuasai olehnya, karena itu dia hanya membacakan buku tersebut.) ketika  menerangkan pelajaran kepada siswa-siswinya karena ketidak matanganya untuk menjadi seorang guru (entah mungkin karena dia selalu mencontek saat ujian? )

     Memang Menyontek itu adalah hal yang telah membudaya di Indonesia, tetapi kalau menyontek di perbolehkan, lebih baik kita tidak perlu belajar(maksudnya belajar di SEKOALAH), pas ada ujian bagikan saja kunci jawabanya langsung, tidak susah-susahkan kalau hanya untuk mendapatkan nilai?, karena pada kenyataanya menyontek dan melihat kunci itu adalah sama-sama suatu KECURAANGAN. jadi umpamanya ada seorang murid yang jadi KORUPTOR (persamaan Korupsi dan Mencontek silahkan klik post saya ini) siapakah yang patut di persalahkan.?

MAU DI BAWA KEMANA PENDIDIKAN DI INDONESIA KITA INI ?...     
     Yang saya maksud "GURU" dalam pernyataan diatas adalah guru-guru yang melakukan perbuatan seperti yang saya sebutkan tadi, bukan SELURUH GURU YANG ADA DI INDONESIA, dan tidak dapat di pungkiri betapa banyak jeritan2 rakyat yang tidak di dengar oleh para pemimpin2 besar (ya, mungkin seperti jeritan saya ini ^_^), ini hanya sekedar memberitahukan kepada masyarakat dan para guru-guru yang lain agar mengharamkan perbuatan tercela tersebut.

Dan memang pendidikan sangat penting tetapi sekolah tidak penting
Insyaallah kalau ada kesempatan lain saya akan mengupdate terus blog saya.

untuk lebih lengkap lagi silahkan mengunjungi link ini school


Salam hangat dari Seorang Siswa yang merasakan keganasan sekolah yang telah menyerang secara
membabi buta.


Student from SMPN1 P.P


Admin
Ad-Lee
wassalam
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Guruku Masih Pantaskah Engkau Menyandang Gelar "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"

Guru adalah bagian terpenting dalam pendidikan di Indonesia, Guru merupakan panutan dan inspirasi murid-murid dalam mengembangkan diri.Semua orang di dunia tahu kalau Guru adalah panutan dan tanpa guru maka nereka mungkin tidak bisa menjadi seseorang yang cerdas kemampuanya, peran guru tidak akan pernah tergantikan sampai kapan pun.


     Berbicara tentang guru maka kita akan teringat kalimat yang berbunyi  "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa".Sekarang kalimat tersebut menjadi sebuah pertanyaan, masih berlakukah kalimat itu.?, apakah kalimat tersebut hanya untuk guru-guru pada masa lalu, apakah banyak perbedaan guru sekarang dengan guru di masa lalu?.Paradigma seorang guru yang hanya memperlemah pendidikan di Indonesia saat ini. apakah yang salah?, si gurukah,sistem pendidikankah, atau siswalah yang patut di persalahkan.

     Jika kita melihat ke masa lalu dimana peran guru pada masa lalu adalah sebuah pekerjaan panggilan hati.Guru menjadikan profesinya sebagai sebuah tindakan pengabdian kepada masyarakat agar masyarakat menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Hingga kita melihat banyak guru yang di gaji kecil tapi tetap mengabdi kepada para murid-muridnya. Mereka terus bersabar dan bersabar dalam kondisi itu makanya sebutan "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" adalah isitlah yang layak untuk para guru semacam itu.

     Bagaimana dengan kondisi guru sekarang ini ? pernahkah kita memikirkan dan membandingkan  guru-guru kita sekarang dengan yang di masa lalu. Guru sekarang  bukan lagi sebuah panggilan hati. Menjadi Guru adalah sebuah panggilan harapan untuk kesejahteraan. hingga menghasilkan sesuatu  yang sangat berrti bagi dunia pendidikan.Misalnya banyak dari para guru yang tidak bagus dalam mengajar mendapat sertifikasi alias tambhan gaji. Kualitas mengajar sangat rendah tapi mendapat gaji tambahan. Perbandingan yang sangat berarti ketika ada guru yang sangat dan memberikan kemampuan terbiknya untuk para muridnya tetapi tidak lolos sertifikasi.

     Kita tidak membahas tentang sertifikaasi tapi saat ini kita membahas kemana guru-guru kita saat ini terbawa . Dunia yang serba kapitalis ini membuat dunia pendidikan dan khususnya para guru seakan bingung dan gamang. Profesi guru, gaji dan prospek masa depan bagus yang membuat para mahasiswa banyak yang ingin menjadi guru.Namun, menjadi masalah utama adalah kompetensi guru-guru di Indonesia sangatlah kurang.Gaji dan tunjangan untuk guru yang tinggi seharusnmya di barengi dengan peningkatan kinerja dan kualitas yang baik.Kualitas guru seharusnya menjadi takaran dalam memberikan tunjangan yang sepadan dengan kinerja mereka dalam mengajar.

     Adalagi yang harus dipertanyakan, yaitu moral guru, banyaknya guru-guru yang tidak disiplin selalu terlambat kalau datang ke sekolah,mengapa murid harus di hukum ketika terlambat datang tapi gurunya saja juga terlambat, mungkin banyak orang mengatakan "Murid dan Guru tidak boleh di samakan" tetapi guru kan perlu juga sanksi atas ketidak di siplinanya tersebut, lain halnya dengan datang terlambat, Kemari saya melihat seorang oknum guru yang MEROKOK di tempat yang seharusnya tidak boleh merokok, yaitu di sekolah lebih tepatnya di perpustakaan, apakah guru-guru tersebut patut di contoh?, dan yang paling mengecewakan lagi adanya Guru yang membantu siswa dalam berbuat curang dalam pelaksanaan ujian entah itu secara tersurat atau tersirat. padahal guru harusnya memberikan teladan yang baik dan pengajar yang jujur.Jika mereka di biarkan tidak jujur. bukan salah siswa di masa depan jika mereka juga akan korupsi dan lain sebagainya, karena guru mereka sendiri mengajarkan hal yang tercela dan tidak jujur.

Guru yang baik harus memenuhi syarat agar nenberikan hal yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. ada beberapa hal mengapa mereka harus mengevaluasi diri mereka sebagai seorang guru:

  1. Guru lebih mementingkan karir ketimbang mengajar para siswa yang memerlukan pengajaran.
  2. Guru lebih senang mengajar apa adanya ketimbang memberikan sesuatu yang bisa membuat para siswa tertarik dalam mengajar.
  3. Kurangnya peran guru dalam membentuk potensi dan karakter yang baik bagi para siswa
  4. Minimnya keahlian wawasan dan pengetahuan guru karena hanya fokus pada buku yang di bawakan.
  5. Guru lebih mementingkan kepentingan sendiri seperti menuntut tambahan Ekonomi dari pada mengajar para siswanya.
  6. Guru malu mengakui jika dia gagal mengajari para siswanya sehinmgga mengahalkan segala cara agar para sisiwa lulus ujian meskipun dengan melakukan kecurangan.

Hal inilah yang menjadi takaran bagi para guru saat ini. Pandangan "guru pahlawan tanpa tanda jasa" masihkah pantas di berikan kepada profesi guru saat ini. Guru Indonesia harus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru harus terus meningkatkan kompetensi mengajar agar kegagalan tidak di dapatkan oleh para siswa. Jika menjadi seorang guru merupakan hanya karena mendapat kesejhteraan dan UANG maka hancurlah dunia pendidikan di Indonesia.Hal ini karena mereka yang punya pandangan seperti hal tersebut akan menjadi malas-malasan karena bagi mereka mengajar atau tidak mengajar meraka disejahterakan oleh negara.

Wassalam  
Guru adalah bagian terpenting dalam pendidikan di Indonesia, Guru merupakan panutan dan inspirasi murid-murid dalam mengembangkan diri.Semua orang di dunia tahu kalau Guru adalah panutan dan tanpa guru maka nereka mungkin tidak bisa menjadi seseorang yang cerdas kemampuanya, peran guru tidak akan pernah tergantikan sampai kapan pun.


     Berbicara tentang guru maka kita akan teringat kalimat yang berbunyi  "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa".Sekarang kalimat tersebut menjadi sebuah pertanyaan, masih berlakukah kalimat itu.?, apakah kalimat tersebut hanya untuk guru-guru pada masa lalu, apakah banyak perbedaan guru sekarang dengan guru di masa lalu?.Paradigma seorang guru yang hanya memperlemah pendidikan di Indonesia saat ini. apakah yang salah?, si gurukah,sistem pendidikankah, atau siswalah yang patut di persalahkan.

     Jika kita melihat ke masa lalu dimana peran guru pada masa lalu adalah sebuah pekerjaan panggilan hati.Guru menjadikan profesinya sebagai sebuah tindakan pengabdian kepada masyarakat agar masyarakat menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Hingga kita melihat banyak guru yang di gaji kecil tapi tetap mengabdi kepada para murid-muridnya. Mereka terus bersabar dan bersabar dalam kondisi itu makanya sebutan "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" adalah isitlah yang layak untuk para guru semacam itu.

     Bagaimana dengan kondisi guru sekarang ini ? pernahkah kita memikirkan dan membandingkan  guru-guru kita sekarang dengan yang di masa lalu. Guru sekarang  bukan lagi sebuah panggilan hati. Menjadi Guru adalah sebuah panggilan harapan untuk kesejahteraan. hingga menghasilkan sesuatu  yang sangat berrti bagi dunia pendidikan.Misalnya banyak dari para guru yang tidak bagus dalam mengajar mendapat sertifikasi alias tambhan gaji. Kualitas mengajar sangat rendah tapi mendapat gaji tambahan. Perbandingan yang sangat berarti ketika ada guru yang sangat dan memberikan kemampuan terbiknya untuk para muridnya tetapi tidak lolos sertifikasi.

     Kita tidak membahas tentang sertifikaasi tapi saat ini kita membahas kemana guru-guru kita saat ini terbawa . Dunia yang serba kapitalis ini membuat dunia pendidikan dan khususnya para guru seakan bingung dan gamang. Profesi guru, gaji dan prospek masa depan bagus yang membuat para mahasiswa banyak yang ingin menjadi guru.Namun, menjadi masalah utama adalah kompetensi guru-guru di Indonesia sangatlah kurang.Gaji dan tunjangan untuk guru yang tinggi seharusnmya di barengi dengan peningkatan kinerja dan kualitas yang baik.Kualitas guru seharusnya menjadi takaran dalam memberikan tunjangan yang sepadan dengan kinerja mereka dalam mengajar.

     Adalagi yang harus dipertanyakan, yaitu moral guru, banyaknya guru-guru yang tidak disiplin selalu terlambat kalau datang ke sekolah,mengapa murid harus di hukum ketika terlambat datang tapi gurunya saja juga terlambat, mungkin banyak orang mengatakan "Murid dan Guru tidak boleh di samakan" tetapi guru kan perlu juga sanksi atas ketidak di siplinanya tersebut, lain halnya dengan datang terlambat, Kemari saya melihat seorang oknum guru yang MEROKOK di tempat yang seharusnya tidak boleh merokok, yaitu di sekolah lebih tepatnya di perpustakaan, apakah guru-guru tersebut patut di contoh?, dan yang paling mengecewakan lagi adanya Guru yang membantu siswa dalam berbuat curang dalam pelaksanaan ujian entah itu secara tersurat atau tersirat. padahal guru harusnya memberikan teladan yang baik dan pengajar yang jujur.Jika mereka di biarkan tidak jujur. bukan salah siswa di masa depan jika mereka juga akan korupsi dan lain sebagainya, karena guru mereka sendiri mengajarkan hal yang tercela dan tidak jujur.

Guru yang baik harus memenuhi syarat agar nenberikan hal yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. ada beberapa hal mengapa mereka harus mengevaluasi diri mereka sebagai seorang guru:

  1. Guru lebih mementingkan karir ketimbang mengajar para siswa yang memerlukan pengajaran.
  2. Guru lebih senang mengajar apa adanya ketimbang memberikan sesuatu yang bisa membuat para siswa tertarik dalam mengajar.
  3. Kurangnya peran guru dalam membentuk potensi dan karakter yang baik bagi para siswa
  4. Minimnya keahlian wawasan dan pengetahuan guru karena hanya fokus pada buku yang di bawakan.
  5. Guru lebih mementingkan kepentingan sendiri seperti menuntut tambahan Ekonomi dari pada mengajar para siswanya.
  6. Guru malu mengakui jika dia gagal mengajari para siswanya sehinmgga mengahalkan segala cara agar para sisiwa lulus ujian meskipun dengan melakukan kecurangan.

Hal inilah yang menjadi takaran bagi para guru saat ini. Pandangan "guru pahlawan tanpa tanda jasa" masihkah pantas di berikan kepada profesi guru saat ini. Guru Indonesia harus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru harus terus meningkatkan kompetensi mengajar agar kegagalan tidak di dapatkan oleh para siswa. Jika menjadi seorang guru merupakan hanya karena mendapat kesejhteraan dan UANG maka hancurlah dunia pendidikan di Indonesia.Hal ini karena mereka yang punya pandangan seperti hal tersebut akan menjadi malas-malasan karena bagi mereka mengajar atau tidak mengajar meraka disejahterakan oleh negara.

Wassalam  
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sekolah Tidak Berguna

Apa gunanya kita bersekolah? Mencari kepintaran? Mencari kepandaian? Mencari ilmu?

Coba anda bayangkan jika di sekolah tidak ada nilai dan ijazah, apakah anda masih akan bersekolah?

Nilai ujian sebenarnya hanyalah tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Sedangkan ijazah hanyalah penghargaan yang diberikan kepada siswa karena kerja kerasnya selama bersekolah.

Tapi bagaimana kenyataannya sekarang? Nilai ujian lebih diutamakan daripada proses pembelajaran. Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus, tanpa memperhatikan kesehariannya belajar dan caranya mengerjakan ujian (bisa saja kan saat Ujian Nasional dapat “wangsit” mendadak).

Tapi apa benar siswa yang nilainya bagus adalah siswa yang pintar? Belum tentu. Coba lihat ke sekolah-sekolah. Bandingkan jumlah siswa yang menyontek saat ujian dan siswa yang mengerjakan pekerjaannya sendiri saat ujian. Akan terlihat perbandingan yang sungguh menakjubkan. Hal itu bukan hanya terjadi di SD, SMP, atau SMA saja, bahkan di universitas pun kegiatan menyontek ini seperti membudaya.

Semua siswa pasti ingin dianggap pintar. Dan kepintaran seorang siswa identik dengan nilai yang bagus. Itulah salah satu sebab siswa menyontek untuk mencari nilai yang bagus.

Lalu bagaimana solusinya? Ingat sekolah adalah tempat belajar dan sekolah bukan hanya tempat mencari ijazah. Belajar bukanlah usaha untuk mencari nilai. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Jadi apa gunanya sekolah
Apa gunanya kita bersekolah? Mencari kepintaran? Mencari kepandaian? Mencari ilmu?

Coba anda bayangkan jika di sekolah tidak ada nilai dan ijazah, apakah anda masih akan bersekolah?

Nilai ujian sebenarnya hanyalah tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Sedangkan ijazah hanyalah penghargaan yang diberikan kepada siswa karena kerja kerasnya selama bersekolah.

Tapi bagaimana kenyataannya sekarang? Nilai ujian lebih diutamakan daripada proses pembelajaran. Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus, tanpa memperhatikan kesehariannya belajar dan caranya mengerjakan ujian (bisa saja kan saat Ujian Nasional dapat “wangsit” mendadak).

Tapi apa benar siswa yang nilainya bagus adalah siswa yang pintar? Belum tentu. Coba lihat ke sekolah-sekolah. Bandingkan jumlah siswa yang menyontek saat ujian dan siswa yang mengerjakan pekerjaannya sendiri saat ujian. Akan terlihat perbandingan yang sungguh menakjubkan. Hal itu bukan hanya terjadi di SD, SMP, atau SMA saja, bahkan di universitas pun kegiatan menyontek ini seperti membudaya.

Semua siswa pasti ingin dianggap pintar. Dan kepintaran seorang siswa identik dengan nilai yang bagus. Itulah salah satu sebab siswa menyontek untuk mencari nilai yang bagus.

Lalu bagaimana solusinya? Ingat sekolah adalah tempat belajar dan sekolah bukan hanya tempat mencari ijazah. Belajar bukanlah usaha untuk mencari nilai. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Jadi apa gunanya sekolah
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tips Jadi Kaya raya dengan berhenti sekolah


TULISAN ini dilatari tiga hal. Pertama, menyikapi bursa kerja fair yang rutin diadakan diseluruh provinsi di Indonesia. Kedua, Kurikulum pendidikan kita yang lebih mengarahkan siswa untuk condong menjadi orang gajian. Ketiga, keinginan manusia yang sangat normatif yaitu ingin menjalani hidup dengan berkecukupan.
Dari akar masalah itu, saya banyak mendengarkan para orang tua yang berkata seperti ini: “Dibanding mewariskan harta saya lebih cenderung mewariskan ilmu pada anak saya karena bila dititipkan harta pasti habis. Tapi bila dititipkan ilmu mereka akan bisa hidup makmur, nyaman dan mandiri.”
Benarkah jika anak dititipkan ilmu dengan sekolah setinggi tingginya dapat hidup makmur? “Paradigma usang” seperti itu, penulis dengar dari mayoritas orang tua mulai dari orang tua biasa hingga yang berpendidikan tinggi. Paradigma yang melahirkan statemen bahwa pendidikan dapat membuat hidup berkecukupan memang tidak salah. Banyak sarjana (apalagi sarjana kedokteran) yang memiliki kehidupan yang mapan. Tapi tak sedikit juga sarjana hidup sederhana saja. Bahkan menganggur.

Sebenarnya yang saya sayangkan dengan statemen tersebut adalah “Pendidikan” dimaknai secara sempit oleh masyarakat kita dengan lebih mengartikan menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga Sarjana. Padahal bukan itu, justru “pendidikan finansial di dunia nyatalah”, bukan di sekolah, yang akan menyebabkan seseorang sanggup bertahan dari badai kesulitan ekonomi yang dapat menerpa kapan saja.

Pakar ilmu finansial Robert T Kyosaki mengarang buku berjudul, “If you want to be rich, don’t go to scool” (Jika anda ingin kaya, jangan pergi ke sekolah). Seseorang walau dengan gelar sarjana sekalipun juga akan terkapar jika dihantam badai kesulitan ekonomi sebagai “orang gajian” di instansi tempat ia bekerja. Karena mentalnya adalah mental buruh, bukan mental pengusaha yang tahan banting.
Ingin kaya? bukan sekolah tempatnya. Tapi di dunia bisnislah yang akan menempa seseorang untuk menjadi seorang pengusaha tangguh dan tahan banting. Namun yang sangat disayangkan yang terjadi ditengah tengah masyarakat adalah banyak UKM yang dibantu baik oleh NGO asing ataupun lembaga lain atau pemerintah, di saat usahanya mandeg dan dapat kesulitan merekapun dengan tangkas membuat “daftar alasan” yang membuat mereka kalah dalam bersaing. Memutuskan berhenti berjuang menjadi entrepreneur dan lupa mengoreksi kesalahan diri untuk selalu bertumbuh. Hanya yang mampu mengoreksi diri dan selalu belajarlah - yang akhirnya mampu bertahan karena selalu berlatih dan kian hari kian tahan banting dan mampu meningkatkan daya saing produknya. Virus entrepreneur bukanlah sebuah virus instan karena ia harus disuntikkan pada generasi muda melalui perubahan kurikulum pendidikan disekolah dan sejak dari “sekolah pertama” yang dikenal anak yaitu lingkungan rumahnya. Settingan mental anak seperti ini, Ibarat si anak diajari memanjat pohon kelapa maka ketinggian pohon pepaya pasti terlewati. Tapi jika si anak diajari memanjat pohon pepaya jangan harap bisa menyamai tinggi pohon Kelapa. Artinya, jika anak di- setting jadi pengusaha, serendah rendahnya pasti mampu jadi orang gajian. Tapi jika anak disetting jadi orang gajian, ia tak akan punya nyali jadi pengusaha.

Kepentingan rezim berkuasa

Dahulu, rezim berkuasa mempersulit warga menjadi entrepreneur dengan cara monopoli, regulasi, dan birokrasi yang berbelit-belit. Aroma KKN sangat kental. Cabang bisnis utama “haram” hukumnya untuk dapat dimasuki oleh masyarakat. Kesulitan memulai bisnis membuat calon pengusaha di masa itu mundur teratur. Ini juga merupakan salah satu pemicu yang melatari didirikan HIPMI tanggal 10 Juni 1972 yakni untuk mendorong masyarakat agar jadi pengusaha. Kurikulum pendidikan juga “di-setting” oleh Rezim untuk mencetak warganya menjadi pegawai saja.

Langkah yang tepat saat ini adalah mengubah kurikulum pendidikan agar memacu siswa menjadi seorang entrepreneur sejati yang tangguh. Hingga saat ini di sekolahan juga masih banyak pola pikir kuno berseliweran. Ada oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi”
Lalu setelah tamat sekolah, anak didik melamar kerja untuk jadi orang gajian alias buruh. Khusus bagi mereka yang memiliki titel jika diterima mereka diberikan seragam buruh yang agak berbeda seperti dasi yang terlihat sedikit “keren” padahal tetap saja namanya buruh. Yang pasti orang yang menerima gaji tidak akan pernah lebih kaya daripada orang yang telah memberinya gaji.

Merubah Paradigma, Mengubah kultur,
Merubah paradigma “seolah-olah” memaksakan orang untuk mengubah agama yang diyakininya benar. Bisa dibayangkan akan terjadi pro dan kontra yang cukup menghebohkan. Karenanya berharap mengubah kurikulum pendidikan saja akan mustahil karena kurikulum pendidikan disusun oleh narasumber ahli yang masih memiliki paradigma lama. Mungkin narasumber ahli itu adalah seorang yang bergelar Profesor atau Doktor. Menyalahkan sang Profesor atau Doktor berpotensi untuk dicap kurang waras. (Profesor kok dilawan…..)
Dalam “menyuntikkan” virus entrepreneur ini, Orang tua harus berani memprovokasi anaknya dengan kata-kata: “Nak…. Ayah sudah terlanjur jadi orang gajian. Ayah adalah korban Rezim zaman dulu. Jadi, jika kamu besar nanti jangan mau jadi orang gajian seperti ayah. Jadilah pengusaha, sekalipun pengusaha tahu - tempe namun pastikan UKM yang kamu dirikan itu akan selalu bertumbuh, keraslah pada dirimu sendiri untuk berdisiplin dan bangun integritas dirimu karena integritas diri itu sangat fatal apalagi di mata perbankan. Semua Perbankan menyukai pengusaha seperti ini. Tirulah Bob Sadino, hanya dari modal awal lima butir telur hingga kemudian jadi besar karena berdisiplin keras, bandel, dan tahan banting. Jangan sekali kali kamu mengemis-ngemis kerja pada pemerintah atau minta kerja pada perusahaan orang karena mengemis kerja adalah ciri-ciri mental seorang pecundang dan pengecut. Ingat !!! ayah mengajarimu jadi seorang yang pemenang, bukan pecundang. Jika kamu tidak meraih ranking satu dikelas, janganlah bersedih karena ranking dikelas itu hanya lelucon, bahan tertawaan bagi para entrepreneur sejati. Justru yang harus kamu lakukan adalah mencatat nama teman-teman pintarmu yang rangking satu tadiKamu harus mampu memprovokasi teman temanmu itu jadi dokter, ahli hukum, ahli konstruksi dll. Setelah dia masuk dalam perangkap dan mengemis minta kerja, maka jadikan dia pekerja professional di jaringan kerajaan bisnis yang kamu rintis nanti. Kalo dia tidak mampu mencapai target, PECAT DIA karena untuk selalu bertumbuh dan menjadi besar kamu harus professional. Bisnis adalah bisnis teman adalah teman. Jangan dicampur adukkan….”

Inilah pesan yang disampaikan para orang tua yang memiliki pola pikir radikal positif dalam memprovokasi anak-anaknya. Anak adalah kertas putih, tergantung kita mau membuatnya seperti apa. Kalau kita mencetaknya jadi orang gajian maka jadilah ia orang gajian. Dan jangan salahkan kalau banyak orang tua setelah pensiun beralih profesi jadi baby sitter, jagain cucu karena kedua orang tua si bayi pergi kerja. Jangan salahkan anak, jika ketika mereka berkeluarga, tapi masih juga sering “nanduk” orang tua ketika mereka tak bisa bayar kontrakan rumah (ndak usah merasa tertampar jika anda selaku orang tua sedang mengalaminya.)
Inilah resiko anak yang dari kecilnya sudah dicetak jadi orang gajian. Berakibat mental pengusaha si anak tak pernah terasah. Sekali kalah dalam persaingan dan usahanya harus tutup, mental aslinya selaku buruh kembali muncul. Mana mungkin bisa menang dalam persaingan usaha kalau tidak konsisten dan tidak punya keinginan kuat untuk bersaing. Pendidikan mental sedari dini sangatlah fatal. Janganlah kita berpikir bahwa pendidikan bisnis ini bisa dilalui dalam 2 – 3 tahun. Ingat !!! sekolah bisnis di dunia nyata itu belum ada lembaganya di dunia ini. Sekolah bisnis itu ada di kehidupan yang mereka jalani saat ini dengan menghadapinya.
Seperti yang kita maklum selama ini, Untuk tamat SD saja butuh 6 tahun. Padahal inti materi pelajaran SD hanya tiga point, yakni belajar membaca, menulis dan matematika dasar. Lainnya…? Hampir mayoritas mubazir. Kebanyakan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang jelas jelas gak ada relevansinya saat anak nantinya beraktifitas dilingkungannya. Akhirnya ilmu yang diajarkan guru hanya untuk kepentingan sesaat waktu ulangan. Siap ulangan ilmu tsb dibuang ke tong sampah. Gak pernah di ingat lagi karena memang tidak terpakai dalam kehidupan sehari hari. Daripada mata pelajaran / mata kuliah mubazir seperti itu, tentu merupakan peluang yang bagus untuk memasukkan mata kuliah Entrepreneur kepada siswa atau mahasiswa untuk menyuntikkan virus entrepreneur tadi.
Bursa kerja fair yang rutin dilaksanakan diseluruh Indonesia, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya, juga untuk “meng-amini sistem” pendidikan dari pemerintah tadi, untuk mencetak orang gajian. Boleh dikatakan semua lembaga kursus di Indonesia juga memiliki visi dan misi menjadikan peserta didiknya untuk jadi orang gajian seumur hidup. Bahkan, salah satu lembaga kursus mengiklankan diri dengan bunyi:
–95% alumni LP3xx sudah bekerja–
Bukan salah Bursa Kerja Fair atau Lembaga Pendidikan tadi. Tapi Sistem pendidikan yang masih menyesatkan pola pikir anak anak muda kita yang potensial yang berakibat banyak di antara para muda, “terjerumus” jadi KULI sampai mati . Siapakah yang bisa mengubah?….


TULISAN ini dilatari tiga hal. Pertama, menyikapi bursa kerja fair yang rutin diadakan diseluruh provinsi di Indonesia. Kedua, Kurikulum pendidikan kita yang lebih mengarahkan siswa untuk condong menjadi orang gajian. Ketiga, keinginan manusia yang sangat normatif yaitu ingin menjalani hidup dengan berkecukupan.
Dari akar masalah itu, saya banyak mendengarkan para orang tua yang berkata seperti ini: “Dibanding mewariskan harta saya lebih cenderung mewariskan ilmu pada anak saya karena bila dititipkan harta pasti habis. Tapi bila dititipkan ilmu mereka akan bisa hidup makmur, nyaman dan mandiri.”
Benarkah jika anak dititipkan ilmu dengan sekolah setinggi tingginya dapat hidup makmur? “Paradigma usang” seperti itu, penulis dengar dari mayoritas orang tua mulai dari orang tua biasa hingga yang berpendidikan tinggi. Paradigma yang melahirkan statemen bahwa pendidikan dapat membuat hidup berkecukupan memang tidak salah. Banyak sarjana (apalagi sarjana kedokteran) yang memiliki kehidupan yang mapan. Tapi tak sedikit juga sarjana hidup sederhana saja. Bahkan menganggur.

Sebenarnya yang saya sayangkan dengan statemen tersebut adalah “Pendidikan” dimaknai secara sempit oleh masyarakat kita dengan lebih mengartikan menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga Sarjana. Padahal bukan itu, justru “pendidikan finansial di dunia nyatalah”, bukan di sekolah, yang akan menyebabkan seseorang sanggup bertahan dari badai kesulitan ekonomi yang dapat menerpa kapan saja.

Pakar ilmu finansial Robert T Kyosaki mengarang buku berjudul, “If you want to be rich, don’t go to scool” (Jika anda ingin kaya, jangan pergi ke sekolah). Seseorang walau dengan gelar sarjana sekalipun juga akan terkapar jika dihantam badai kesulitan ekonomi sebagai “orang gajian” di instansi tempat ia bekerja. Karena mentalnya adalah mental buruh, bukan mental pengusaha yang tahan banting.
Ingin kaya? bukan sekolah tempatnya. Tapi di dunia bisnislah yang akan menempa seseorang untuk menjadi seorang pengusaha tangguh dan tahan banting. Namun yang sangat disayangkan yang terjadi ditengah tengah masyarakat adalah banyak UKM yang dibantu baik oleh NGO asing ataupun lembaga lain atau pemerintah, di saat usahanya mandeg dan dapat kesulitan merekapun dengan tangkas membuat “daftar alasan” yang membuat mereka kalah dalam bersaing. Memutuskan berhenti berjuang menjadi entrepreneur dan lupa mengoreksi kesalahan diri untuk selalu bertumbuh. Hanya yang mampu mengoreksi diri dan selalu belajarlah - yang akhirnya mampu bertahan karena selalu berlatih dan kian hari kian tahan banting dan mampu meningkatkan daya saing produknya. Virus entrepreneur bukanlah sebuah virus instan karena ia harus disuntikkan pada generasi muda melalui perubahan kurikulum pendidikan disekolah dan sejak dari “sekolah pertama” yang dikenal anak yaitu lingkungan rumahnya. Settingan mental anak seperti ini, Ibarat si anak diajari memanjat pohon kelapa maka ketinggian pohon pepaya pasti terlewati. Tapi jika si anak diajari memanjat pohon pepaya jangan harap bisa menyamai tinggi pohon Kelapa. Artinya, jika anak di- setting jadi pengusaha, serendah rendahnya pasti mampu jadi orang gajian. Tapi jika anak disetting jadi orang gajian, ia tak akan punya nyali jadi pengusaha.

Kepentingan rezim berkuasa

Dahulu, rezim berkuasa mempersulit warga menjadi entrepreneur dengan cara monopoli, regulasi, dan birokrasi yang berbelit-belit. Aroma KKN sangat kental. Cabang bisnis utama “haram” hukumnya untuk dapat dimasuki oleh masyarakat. Kesulitan memulai bisnis membuat calon pengusaha di masa itu mundur teratur. Ini juga merupakan salah satu pemicu yang melatari didirikan HIPMI tanggal 10 Juni 1972 yakni untuk mendorong masyarakat agar jadi pengusaha. Kurikulum pendidikan juga “di-setting” oleh Rezim untuk mencetak warganya menjadi pegawai saja.

Langkah yang tepat saat ini adalah mengubah kurikulum pendidikan agar memacu siswa menjadi seorang entrepreneur sejati yang tangguh. Hingga saat ini di sekolahan juga masih banyak pola pikir kuno berseliweran. Ada oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi”
Lalu setelah tamat sekolah, anak didik melamar kerja untuk jadi orang gajian alias buruh. Khusus bagi mereka yang memiliki titel jika diterima mereka diberikan seragam buruh yang agak berbeda seperti dasi yang terlihat sedikit “keren” padahal tetap saja namanya buruh. Yang pasti orang yang menerima gaji tidak akan pernah lebih kaya daripada orang yang telah memberinya gaji.

Merubah Paradigma, Mengubah kultur,
Merubah paradigma “seolah-olah” memaksakan orang untuk mengubah agama yang diyakininya benar. Bisa dibayangkan akan terjadi pro dan kontra yang cukup menghebohkan. Karenanya berharap mengubah kurikulum pendidikan saja akan mustahil karena kurikulum pendidikan disusun oleh narasumber ahli yang masih memiliki paradigma lama. Mungkin narasumber ahli itu adalah seorang yang bergelar Profesor atau Doktor. Menyalahkan sang Profesor atau Doktor berpotensi untuk dicap kurang waras. (Profesor kok dilawan…..)
Dalam “menyuntikkan” virus entrepreneur ini, Orang tua harus berani memprovokasi anaknya dengan kata-kata: “Nak…. Ayah sudah terlanjur jadi orang gajian. Ayah adalah korban Rezim zaman dulu. Jadi, jika kamu besar nanti jangan mau jadi orang gajian seperti ayah. Jadilah pengusaha, sekalipun pengusaha tahu - tempe namun pastikan UKM yang kamu dirikan itu akan selalu bertumbuh, keraslah pada dirimu sendiri untuk berdisiplin dan bangun integritas dirimu karena integritas diri itu sangat fatal apalagi di mata perbankan. Semua Perbankan menyukai pengusaha seperti ini. Tirulah Bob Sadino, hanya dari modal awal lima butir telur hingga kemudian jadi besar karena berdisiplin keras, bandel, dan tahan banting. Jangan sekali kali kamu mengemis-ngemis kerja pada pemerintah atau minta kerja pada perusahaan orang karena mengemis kerja adalah ciri-ciri mental seorang pecundang dan pengecut. Ingat !!! ayah mengajarimu jadi seorang yang pemenang, bukan pecundang. Jika kamu tidak meraih ranking satu dikelas, janganlah bersedih karena ranking dikelas itu hanya lelucon, bahan tertawaan bagi para entrepreneur sejati. Justru yang harus kamu lakukan adalah mencatat nama teman-teman pintarmu yang rangking satu tadiKamu harus mampu memprovokasi teman temanmu itu jadi dokter, ahli hukum, ahli konstruksi dll. Setelah dia masuk dalam perangkap dan mengemis minta kerja, maka jadikan dia pekerja professional di jaringan kerajaan bisnis yang kamu rintis nanti. Kalo dia tidak mampu mencapai target, PECAT DIA karena untuk selalu bertumbuh dan menjadi besar kamu harus professional. Bisnis adalah bisnis teman adalah teman. Jangan dicampur adukkan….”

Inilah pesan yang disampaikan para orang tua yang memiliki pola pikir radikal positif dalam memprovokasi anak-anaknya. Anak adalah kertas putih, tergantung kita mau membuatnya seperti apa. Kalau kita mencetaknya jadi orang gajian maka jadilah ia orang gajian. Dan jangan salahkan kalau banyak orang tua setelah pensiun beralih profesi jadi baby sitter, jagain cucu karena kedua orang tua si bayi pergi kerja. Jangan salahkan anak, jika ketika mereka berkeluarga, tapi masih juga sering “nanduk” orang tua ketika mereka tak bisa bayar kontrakan rumah (ndak usah merasa tertampar jika anda selaku orang tua sedang mengalaminya.)
Inilah resiko anak yang dari kecilnya sudah dicetak jadi orang gajian. Berakibat mental pengusaha si anak tak pernah terasah. Sekali kalah dalam persaingan dan usahanya harus tutup, mental aslinya selaku buruh kembali muncul. Mana mungkin bisa menang dalam persaingan usaha kalau tidak konsisten dan tidak punya keinginan kuat untuk bersaing. Pendidikan mental sedari dini sangatlah fatal. Janganlah kita berpikir bahwa pendidikan bisnis ini bisa dilalui dalam 2 – 3 tahun. Ingat !!! sekolah bisnis di dunia nyata itu belum ada lembaganya di dunia ini. Sekolah bisnis itu ada di kehidupan yang mereka jalani saat ini dengan menghadapinya.
Seperti yang kita maklum selama ini, Untuk tamat SD saja butuh 6 tahun. Padahal inti materi pelajaran SD hanya tiga point, yakni belajar membaca, menulis dan matematika dasar. Lainnya…? Hampir mayoritas mubazir. Kebanyakan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang jelas jelas gak ada relevansinya saat anak nantinya beraktifitas dilingkungannya. Akhirnya ilmu yang diajarkan guru hanya untuk kepentingan sesaat waktu ulangan. Siap ulangan ilmu tsb dibuang ke tong sampah. Gak pernah di ingat lagi karena memang tidak terpakai dalam kehidupan sehari hari. Daripada mata pelajaran / mata kuliah mubazir seperti itu, tentu merupakan peluang yang bagus untuk memasukkan mata kuliah Entrepreneur kepada siswa atau mahasiswa untuk menyuntikkan virus entrepreneur tadi.
Bursa kerja fair yang rutin dilaksanakan diseluruh Indonesia, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya, juga untuk “meng-amini sistem” pendidikan dari pemerintah tadi, untuk mencetak orang gajian. Boleh dikatakan semua lembaga kursus di Indonesia juga memiliki visi dan misi menjadikan peserta didiknya untuk jadi orang gajian seumur hidup. Bahkan, salah satu lembaga kursus mengiklankan diri dengan bunyi:
–95% alumni LP3xx sudah bekerja–
Bukan salah Bursa Kerja Fair atau Lembaga Pendidikan tadi. Tapi Sistem pendidikan yang masih menyesatkan pola pikir anak anak muda kita yang potensial yang berakibat banyak di antara para muda, “terjerumus” jadi KULI sampai mati . Siapakah yang bisa mengubah?….

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Persamaan Mencontek Dengan Korupsi


Korupsi menurut Transparancy International didefinisikan sebagai “Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka” (www.pukatkorupsi.org)
Definisi mencontek pun tak jauh berbeda, mencontek adalah perilaku seorang murid, baik siswa maupun mahasiswa, yang secara tidak wajar dan tidak legal berusaha mempertinggi nilai ujian sendiri atau mempertinggi nilai ujian mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kepercayaan guru/dosen terhadap kemampuan mahasiswa tersebut. Definisi mencontek ini tentunya datang dari diri saya sendiri hehe, bukan dari pakar manapun. Akan tetapi, coba kita lihat baik-baik. Kita harus mengakui bahwa itu benar adanya.!

Korupsi menurut Transparancy International didefinisikan sebagai “Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka” (www.pukatkorupsi.org)
Definisi mencontek pun tak jauh berbeda, mencontek adalah perilaku seorang murid, baik siswa maupun mahasiswa, yang secara tidak wajar dan tidak legal berusaha mempertinggi nilai ujian sendiri atau mempertinggi nilai ujian mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kepercayaan guru/dosen terhadap kemampuan mahasiswa tersebut. Definisi mencontek ini tentunya datang dari diri saya sendiri hehe, bukan dari pakar manapun. Akan tetapi, coba kita lihat baik-baik. Kita harus mengakui bahwa itu benar adanya.!
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Ancaman Gempa 8.9 SR Masih Belum Pasti

Andi Arief: Tinggal Menunggu Waktu

Andi Arief mengatakan, gempa berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami, yang akan melu­luh­kan­takkan pesisir pantai barat Su­matera, tinggal menunggu waktu. Na­mun pernyataan Andi ini diban­tah Badrul Mustafa Kemal. “Tak benar itu!”

PADANG — Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Andi Arief mengatakan,  ancaman gempa berkekuatan 8,9 SR yang disertai  tsunami bisa saja dipre­diksi akan terjadi dan menerjang wilayah pesisir pantai Sumatera Barat.

“Tinggal menunggu waktu saja,” kata Andi Arief saat menjadi narasumber dalam Workshop Peran Jurnalis dalam Penanggulangan Bencana yang digelar Badan Pe­nang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar bekerja sama dengan Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB), di Pangeran Beach Hotel Padang, Sabtu (14/1).

Acara ini diikuti sekitar 100 jurnalis dari media elektronik, cetak, online, yang ada di Sumatera Barat. Namun pernyataan Andi Arief ini dibantah Prof Dr Badrul Mus­tafa Kemal, Ketua Himpunan Geofisika Indonesia-Sumatera Barat. Badrul mengatakan, pernya­taan dari Andi Arief itu tidak be­nar.

“Atas landasan dan penelitian apa Andi Arief bisa menyatakan terjadi gempa dan tsunami di Su­matera Barat ini positif menunggu waktu saja. Itu tidak benar,” bantah Badrul Mustafa Kemal saat dihubungi Haluan, Sabtu malam.

Menurut Andi Arief, gempa yang nantinya menerjang pesisir pantai Sumbar tidak jauh beda dengan kekuatan gempa yang terjadi di Jepang tahun 2011 silam. Pusat gempa di dekat Pulau Siberut Kepulauan Mentawai.

“Potensi gempa berkekuatan besar 8,9 SR harus disampaikan kepada masyarakat. Kita seha­rusnya sadar daerah ini merupakan salah satu ‘supermarket’ bencana dan itu tidak bisa ditutup-tutupi. Masyarakat harus mengetahui itu agar mereka dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi setiap kemungkinan, bukan untuk menakut-nakuti,” katanya.

Potensi gempa dengan kekuatan 8,9 SR tersebut berdasarkan kajian dari data kebencanaan di masa lalu. Seperti gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004, merupakan siklus 600 tahunan yang sebelumnya terjadi sekitar abad ke-14 dan 15.

Potensi gempa dengan kekuatan besar di Sumbar, menurut dia, juga berdasarkan sejarah masa lalu yang pernah terjadi, yakni tsunami pada abad 14, 17, dan 18. Data tersebut cukup memperlengkap adanya potensi ke arah bencana.

Menurut dia, kemungkinan terjadinya gempa dengan kekuatan besar setelah ia melakukan pem­bicaraan dengan pihak PMBV, LIPI, BNPB, serta para ahli dan tim perguruan tinggi.

Dari pertemuan yang dila­kukan, katanya, daerah yang patut diwaspadai terjadinya gempa dengan kekuatan besar adalah Siberut, serta Selat Sunda, dimana dua kawasan itu harus menjadi prioritas perhatian baik masya­rakat sekitar maupun pemerintah.

Ia menambahkan, dengan ada­nya potensi terjadinya gempa berkekuatan besar di Sumbar, masyarakat harus kembali meng­gali apa yang ada pada zaman dulu. Karena itu penelitian tentang keberadaan Istana Pagaruyung yang asli masih terus dilakukan untuk mengetahui sejarah yang terputus tentang kebencanaan di Sumbar.

“Jika potensi bencana itu ada dan tidak kita sampaikan, maka yang terjadi nantinya malah akan membuat masyarakat yang menjadi korban semakin banyak, seperti yang terjadi di Aceh tahun 2004. Kita harus belajar dari itu, ada kepentingan untuk menyampaikan potensi bencana agar masyarakat siap menghadapinya,” papar Andi Arief.

Andi Arief menambahkan, dalam sidang kabinet potensi gempa dan tsunami ini telah dibicararakan sebanyak dua kali. Bahkan Presiden SBY sudah mem­be­rikan kuasa kepada para peneliti dan para ahli untuk bekerja semak­simal mungkin untuk berupaya meminimkan resiko bencana gempa dan tsunami di Sumatera Barat.

Dijelaskannya, apabila gempa dan tsunami menggoyang Sumbar saat ini, diprediksikan korban jiwa akan mencapai satu juta orang. “Untuk sekarang, Sumbar belum siap menghadapi gempa dan tsu­nami. Diperkirakan akan jatuh korban mencapai satu juta jiwa karena sarana dan prasarana yang tersedia masih bisa dikatakan di bawah standar mitigasi bencana gempa dan tsunami,” tutur Andi.

Dia membandingkan, bencana gempa dan tsunami di Jepang memang sudah diprediksikan sejak tahun 1994 dan baru terjadi di tahun 2011. Selama 17 tahun Jepang telah melakukan persiapan, tetapi tetap saja terjadi kesalahan secara teknis yang mengakibatkan korban jiwa mencapai 20 ribu orang.

Andi menerangkan, penje­lasan­nya ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat yang ada di Sumatera Barat, tapi hal ini bertujuan agar masyarakat dapat mengetahuinya dan bisa berpikir secara bersama-sama untuk memi­nimalisir risiko bencana yang akan menimpa Sumbar.

Oleh karena itu, pemerintah pusat menginstruksikan kepada pemerintah daerah, organisasi kebencanaan, NGO, lembaga, dan masyarakat untuk bersama-sama serius dalam menanggapi potensi bencana gempa dan tsunami. “Ini persoalan keselamatan bersama.”

“Saya juga mengimbau kepada masyarakat yang mempunyai ekonomi kuat untuk membangun shelter-shelter di rumah dan tempat usahanya agar dapat dimanfaatkan juga oleh masyarakat yang lainnya,” imbaunya.

Tak Perlu Dicemaskan

Badrul Mustafa Kemal ketika dimintai komentarnya menjelaskan, jika gempa bisa diprediksi, tetapi tsunami sangat tipis dan rumit karena harus memenuhi empat kriteria yaitu pertama pusat episentrum gempa berada di dasar laut, kedua kekuatan gempa di atas 6,5 SR, ketiga kedalaman gempa 30 km ke bawah, dan keempat terjadi pergesekan secara vertikal. Keempat kriteria ini harus terjadi secara bersamaan.

“Walaupun gempa 8,9 skala richter terjadi di Selat Mentawai, kecil kemungkinan adanya tsunami karena rengkahan dasar laut hanya kecil. Tetapi jika terjadi di balik Mentawai atau di bagian barat Pulau Siberut, potensi tsunami memang besar dan daerah utama yang akan diterjangnya adalah Kepulauan Mentawai, dan baru ke pesisir pantai barat Sumatera,” kata Badrul sekaligus ia memban­tah apa yang dikatakan Andi Arief.

Badrul sangat tidak setuju dengan pendapat Andi Arief yang mengatakan gempa 8,9 SR dan disusul tsunami yang akan me­nerjang Sumatera Barat, karena tanda-tanda potensi gempa yang mengakibatkan tsunami sangat kecil.

“Pernyataan itu hanya akan membuat masyarakat takut dan beropini macam-macam. Kita tidak tahu kapan terjadi gempa dan berapa kekuatannya,” katanya.

“Memang pantai barat Sumatera sering dilanda gempa, tapi untuk terjadinya tsunami sangat kecil, karena pusat gempa selalu berada di Selat Mentawai. Jadi tidak perlu terlalu dice­maskan,” katanya.

Di kutip dari HALUAN

Jadi apakah anda percaya dengan isu-isu yang beredar.........
semua kembali ke tangan anda...
dan tetap WASPADA....

Wassalam.........
Andi Arief: Tinggal Menunggu Waktu

Andi Arief mengatakan, gempa berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami, yang akan melu­luh­kan­takkan pesisir pantai barat Su­matera, tinggal menunggu waktu. Na­mun pernyataan Andi ini diban­tah Badrul Mustafa Kemal. “Tak benar itu!”

PADANG — Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Andi Arief mengatakan,  ancaman gempa berkekuatan 8,9 SR yang disertai  tsunami bisa saja dipre­diksi akan terjadi dan menerjang wilayah pesisir pantai Sumatera Barat.

“Tinggal menunggu waktu saja,” kata Andi Arief saat menjadi narasumber dalam Workshop Peran Jurnalis dalam Penanggulangan Bencana yang digelar Badan Pe­nang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar bekerja sama dengan Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB), di Pangeran Beach Hotel Padang, Sabtu (14/1).

Acara ini diikuti sekitar 100 jurnalis dari media elektronik, cetak, online, yang ada di Sumatera Barat. Namun pernyataan Andi Arief ini dibantah Prof Dr Badrul Mus­tafa Kemal, Ketua Himpunan Geofisika Indonesia-Sumatera Barat. Badrul mengatakan, pernya­taan dari Andi Arief itu tidak be­nar.

“Atas landasan dan penelitian apa Andi Arief bisa menyatakan terjadi gempa dan tsunami di Su­matera Barat ini positif menunggu waktu saja. Itu tidak benar,” bantah Badrul Mustafa Kemal saat dihubungi Haluan, Sabtu malam.

Menurut Andi Arief, gempa yang nantinya menerjang pesisir pantai Sumbar tidak jauh beda dengan kekuatan gempa yang terjadi di Jepang tahun 2011 silam. Pusat gempa di dekat Pulau Siberut Kepulauan Mentawai.

“Potensi gempa berkekuatan besar 8,9 SR harus disampaikan kepada masyarakat. Kita seha­rusnya sadar daerah ini merupakan salah satu ‘supermarket’ bencana dan itu tidak bisa ditutup-tutupi. Masyarakat harus mengetahui itu agar mereka dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi setiap kemungkinan, bukan untuk menakut-nakuti,” katanya.

Potensi gempa dengan kekuatan 8,9 SR tersebut berdasarkan kajian dari data kebencanaan di masa lalu. Seperti gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004, merupakan siklus 600 tahunan yang sebelumnya terjadi sekitar abad ke-14 dan 15.

Potensi gempa dengan kekuatan besar di Sumbar, menurut dia, juga berdasarkan sejarah masa lalu yang pernah terjadi, yakni tsunami pada abad 14, 17, dan 18. Data tersebut cukup memperlengkap adanya potensi ke arah bencana.

Menurut dia, kemungkinan terjadinya gempa dengan kekuatan besar setelah ia melakukan pem­bicaraan dengan pihak PMBV, LIPI, BNPB, serta para ahli dan tim perguruan tinggi.

Dari pertemuan yang dila­kukan, katanya, daerah yang patut diwaspadai terjadinya gempa dengan kekuatan besar adalah Siberut, serta Selat Sunda, dimana dua kawasan itu harus menjadi prioritas perhatian baik masya­rakat sekitar maupun pemerintah.

Ia menambahkan, dengan ada­nya potensi terjadinya gempa berkekuatan besar di Sumbar, masyarakat harus kembali meng­gali apa yang ada pada zaman dulu. Karena itu penelitian tentang keberadaan Istana Pagaruyung yang asli masih terus dilakukan untuk mengetahui sejarah yang terputus tentang kebencanaan di Sumbar.

“Jika potensi bencana itu ada dan tidak kita sampaikan, maka yang terjadi nantinya malah akan membuat masyarakat yang menjadi korban semakin banyak, seperti yang terjadi di Aceh tahun 2004. Kita harus belajar dari itu, ada kepentingan untuk menyampaikan potensi bencana agar masyarakat siap menghadapinya,” papar Andi Arief.

Andi Arief menambahkan, dalam sidang kabinet potensi gempa dan tsunami ini telah dibicararakan sebanyak dua kali. Bahkan Presiden SBY sudah mem­be­rikan kuasa kepada para peneliti dan para ahli untuk bekerja semak­simal mungkin untuk berupaya meminimkan resiko bencana gempa dan tsunami di Sumatera Barat.

Dijelaskannya, apabila gempa dan tsunami menggoyang Sumbar saat ini, diprediksikan korban jiwa akan mencapai satu juta orang. “Untuk sekarang, Sumbar belum siap menghadapi gempa dan tsu­nami. Diperkirakan akan jatuh korban mencapai satu juta jiwa karena sarana dan prasarana yang tersedia masih bisa dikatakan di bawah standar mitigasi bencana gempa dan tsunami,” tutur Andi.

Dia membandingkan, bencana gempa dan tsunami di Jepang memang sudah diprediksikan sejak tahun 1994 dan baru terjadi di tahun 2011. Selama 17 tahun Jepang telah melakukan persiapan, tetapi tetap saja terjadi kesalahan secara teknis yang mengakibatkan korban jiwa mencapai 20 ribu orang.

Andi menerangkan, penje­lasan­nya ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat yang ada di Sumatera Barat, tapi hal ini bertujuan agar masyarakat dapat mengetahuinya dan bisa berpikir secara bersama-sama untuk memi­nimalisir risiko bencana yang akan menimpa Sumbar.

Oleh karena itu, pemerintah pusat menginstruksikan kepada pemerintah daerah, organisasi kebencanaan, NGO, lembaga, dan masyarakat untuk bersama-sama serius dalam menanggapi potensi bencana gempa dan tsunami. “Ini persoalan keselamatan bersama.”

“Saya juga mengimbau kepada masyarakat yang mempunyai ekonomi kuat untuk membangun shelter-shelter di rumah dan tempat usahanya agar dapat dimanfaatkan juga oleh masyarakat yang lainnya,” imbaunya.

Tak Perlu Dicemaskan

Badrul Mustafa Kemal ketika dimintai komentarnya menjelaskan, jika gempa bisa diprediksi, tetapi tsunami sangat tipis dan rumit karena harus memenuhi empat kriteria yaitu pertama pusat episentrum gempa berada di dasar laut, kedua kekuatan gempa di atas 6,5 SR, ketiga kedalaman gempa 30 km ke bawah, dan keempat terjadi pergesekan secara vertikal. Keempat kriteria ini harus terjadi secara bersamaan.

“Walaupun gempa 8,9 skala richter terjadi di Selat Mentawai, kecil kemungkinan adanya tsunami karena rengkahan dasar laut hanya kecil. Tetapi jika terjadi di balik Mentawai atau di bagian barat Pulau Siberut, potensi tsunami memang besar dan daerah utama yang akan diterjangnya adalah Kepulauan Mentawai, dan baru ke pesisir pantai barat Sumatera,” kata Badrul sekaligus ia memban­tah apa yang dikatakan Andi Arief.

Badrul sangat tidak setuju dengan pendapat Andi Arief yang mengatakan gempa 8,9 SR dan disusul tsunami yang akan me­nerjang Sumatera Barat, karena tanda-tanda potensi gempa yang mengakibatkan tsunami sangat kecil.

“Pernyataan itu hanya akan membuat masyarakat takut dan beropini macam-macam. Kita tidak tahu kapan terjadi gempa dan berapa kekuatannya,” katanya.

“Memang pantai barat Sumatera sering dilanda gempa, tapi untuk terjadinya tsunami sangat kecil, karena pusat gempa selalu berada di Selat Mentawai. Jadi tidak perlu terlalu dice­maskan,” katanya.

Di kutip dari HALUAN

Jadi apakah anda percaya dengan isu-isu yang beredar.........
semua kembali ke tangan anda...
dan tetap WASPADA....

Wassalam.........
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Kata Kata Bijak Albert Einstein



Meski ia mengatakan, “Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran.” namun nama “Einstein” sangat identik dengan kata “Jenius”. Hampir tidak ada seorangpun yang menolak jika Einstein dikatakan sebagai prototipe manusia jenius. Berikut berbagai pemikiran dan pendapat seorang Albert Einstein:
1. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.
2. Sesuatu yang paling sulit dimengerti di dunia ini adalah pajak penghasilan.
3. Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang luar biasa seandainya seseorang tidak harus menghabiskan hidupnya terhadap hal tersebut.
” Knowledge is something extraordinary in case someone does not have to spend his life on it. “
4. Terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita.
5. Saya tidak memiliki bakat tertentu. Saya hanya ingin tahu.
” I have no particular talent. I am merely inquisitive. “
6. Jika fakta tidak sesuai dengan teori, rubahlah faktanya.
” If the facts don’t fit the theory, change the facts “
7. Semakin hukum matematika menunjukkan realitas, menjadi semakin tidak pasti; semakin pasti, semakin tidak menunjukkan realitas.
” As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality. “
8. Kerja keras bukan untuk sukses tetapi untuk sebuah nilai.
” Strive not to be a success, but rather to be of value. “
9. Pelepasan tenaga atom telah merubah segalanya kecuali cara kita berpikir… pemecahan untuk masalah ini tergantung kepada hati nurani umat manusia. Jika saya mengetahuinya, lebih baik saya menjadi pembuat jam tangan.
” The release of atom power has changed everything except our way of thinking… the solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker. “
10. Tragedi kehidupan adalah sesuatu yang mati di dalam diri seseorang pada saat dia hidup.
11. Saya tidak pernah memikirkan masa depan. Masa depan akan segera datang.
” I never think of the future. It comes soon enough. “
12. Jika A adalah ‘sukses’, maka rumusnya adalah ‘A=X+Y+Z’, dimana X adalah ‘kerja’, Y adalah ‘bermain’, dan Z adalah jaga mulut anda agar tetap tertutup.
” If A equals success, then the formula is: A=X+Y+Z. X is work. Y is play. Z is keep your mouth shut. “
13. ketika seseorang bertanya kepada Einstein, pertanyaan apa yang akan diajukan kepada Tuhan bila dia dapat mengajukan pertanyaan itu, dia menjawab,”Bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanya masalah matematika.” Tapi setelah berpikir beberapa saat, dia mengubah pikirannya lalu bilang,”Bukan itu. Saya akan bertanya,”Kenapa dunia ini diciptakan?” Karena, dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri.
14. Telegraph tanpa kabel tidak sulit untuk dimengerti. Telegraph biasa seperti kucing yang sangat panjang. Anda tarik ekornya di New York, dan mengeong di Los Angeles. Yang tanpa kabel sama saja, hanya tanpa kucingnya.
” The wireless telegraph is not difficult to understand. The ordinary telegraph is like a very long cat. You pull the tail in New York, and it meows in Los Angeles. The wireless is the same, only without the cat. “

15. Tuhan tidak bermain dadu.
” God doesn’t play dice. “
16. Kelemahan dalam tingkah laku menjadi kelemahan karakter.
“Weakness of attitude becomes weakness of character.“
17. Membaca, setelah beberapa waktu, menggelapkan pikiran terlalu jauh dari pencarian kreatif nya. Seseorang yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas untuk berpikir.
“ Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking.
18. Ketika ditanya dengan apa perang dunia III akan dilakukan, Einstein menjawab bahwa ia tidak tahu. Tapi dia mengetahui dengan apa perang dunia IV akan dilakukan: Dengan pentungan dan batu!
” When asked how World War III would be fought, Einstein replied that he didn’t know. But he knew how World War IV would be fought: With sticks and stones! “
19. Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.
” Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed. “
20. Kenyataan hanyalah sebuah ilusi, walaupun terjadi terus menerus.
” Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one. “
21. Jika teori relativitas terbukti sukses, Jerman akan mengklaim saya sebagai orang Jerman dan Perancis menyatakan bahwa saya seorang penduduk dunia. Seharusnya teori saya terbukti tidak benar, Perancis akan mengatakan saya orang Jerman dan Jerman akan mengatakan saya orang Yahudi.
“If my theory of relativity is proven successful, Germany will claim me as a German and France will declare that I am a citizen of the world. Should my theory prove untrue, France will say that I am a German and Germany will declare that I am a Jew.“
22. Nasionalisme adalah penyakit yang kekanak-kanakan. Itu adalah penyakit campak dari ras manusia.
“Nationalism is an infantile sickness. It is the measles of the human race.“
23. Sejak ahli matematika menginvasi teori relativitas. Saya tidak mengerti diri saya lagi.
24. Kaum intelektual memecahkan masalah, para jenius mencegah mereka.
“Intellectuals solve problems; genuises prevent them.“
25. Aku meyakini bahwa Dia (Tuhan) tidak bermain dadu.
“I am convinced that he ( God ) does not play dice.“
26. Hukum gravitasi tidak berlaku terhadap orang yang sedang jatuh cinta.
“Gravitation cannot be held responsible for people falling in love.“
27. Adalah mungkin untuk menjelaskan segala sesuatu secara ilmiah, tetapi itu membuatnya tanpa rasa; itu membuatnya tanpa arti, seperti jika anda menjelaskan Simfony Beethoven sebagai variasi dari tekanan udara.
“It would be possible to describe everything scientifically, but it would make no sense; it would be without meaning, as if you described a Beethoven symphony as a variation of wave pressure.”
28. Tugas sains antara lain adalah untuk menemukan keindahan alam.
29. Di tengah kesulitan terdapat kesempatan.
“In the middle of difficulty lies opportunity.”
30. Satu – satunya hal yang bertentangan dengan ilmu pengetahuanku adalah pendidikanku.
“The only thing that interferes with my learning is my education.”
31. Ketika anda berpacaran dengan cewek yang manis, satu jam seperti sedetik. Ketika anda duduk di atas tungku panas, sedetik serasa satu jam. Itulah relativitas.
“When you are courting a nice girl an hour seems like a second. When you sit on a red-hot cinder a second seems like an hour. That’s relativity.”
32. Itu tidak berarti saya cerdas, Itu hanya karena saya tetap dengan masalah tersebut lebih lama.
“It’s not that I’m so smart , it’s just that I stay with problems longer.”
33. Banyak orang mengatakan kepintaran yang menjadikan seseorang Ilmuwan besar. Mereka keliru.. itu adalah karakter.
“Many people say that the intelligence that make the great scientists. They are mistaken .. it is the characters.”
34. Masalah penting yang kita hadapi kini tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan masalah tersebut.
“We can not solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them.”
35. Hanya ada dua hal yang tidak terbatas, alam semesta dan kebodohan. Dan saya tidak yakin tentang alam semesta.
“There are only two truly infinite things, the universe and stupidity. And I am unsure about the universe.”
36. Ada dua cara untuk memahami kehidupan. Cara pertama dengan menyadari bahwa tidak ada hal yang mukjizat. Yang kedua menyadari bahwa semua hal adalah mukjizat.
“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

37. Intuisi lebih penting daripada penjelasan. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.
38. Cobalah tidak untuk menjadi seseorang yang sukses, tetapi menjadi seseorang yang bernilai.
“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.”
39. Seseorang memulai untuk hidup ketika ia dapat hidup diluar dirinya.
“A person starts to live when he can live outside himself.”
40. Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan
beritaunik.net


Meski ia mengatakan, “Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran.” namun nama “Einstein” sangat identik dengan kata “Jenius”. Hampir tidak ada seorangpun yang menolak jika Einstein dikatakan sebagai prototipe manusia jenius. Berikut berbagai pemikiran dan pendapat seorang Albert Einstein:
1. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.
2. Sesuatu yang paling sulit dimengerti di dunia ini adalah pajak penghasilan.
3. Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang luar biasa seandainya seseorang tidak harus menghabiskan hidupnya terhadap hal tersebut.
” Knowledge is something extraordinary in case someone does not have to spend his life on it. “
4. Terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita.
5. Saya tidak memiliki bakat tertentu. Saya hanya ingin tahu.
” I have no particular talent. I am merely inquisitive. “
6. Jika fakta tidak sesuai dengan teori, rubahlah faktanya.
” If the facts don’t fit the theory, change the facts “
7. Semakin hukum matematika menunjukkan realitas, menjadi semakin tidak pasti; semakin pasti, semakin tidak menunjukkan realitas.
” As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality. “
8. Kerja keras bukan untuk sukses tetapi untuk sebuah nilai.
” Strive not to be a success, but rather to be of value. “
9. Pelepasan tenaga atom telah merubah segalanya kecuali cara kita berpikir… pemecahan untuk masalah ini tergantung kepada hati nurani umat manusia. Jika saya mengetahuinya, lebih baik saya menjadi pembuat jam tangan.
” The release of atom power has changed everything except our way of thinking… the solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker. “
10. Tragedi kehidupan adalah sesuatu yang mati di dalam diri seseorang pada saat dia hidup.
11. Saya tidak pernah memikirkan masa depan. Masa depan akan segera datang.
” I never think of the future. It comes soon enough. “
12. Jika A adalah ‘sukses’, maka rumusnya adalah ‘A=X+Y+Z’, dimana X adalah ‘kerja’, Y adalah ‘bermain’, dan Z adalah jaga mulut anda agar tetap tertutup.
” If A equals success, then the formula is: A=X+Y+Z. X is work. Y is play. Z is keep your mouth shut. “
13. ketika seseorang bertanya kepada Einstein, pertanyaan apa yang akan diajukan kepada Tuhan bila dia dapat mengajukan pertanyaan itu, dia menjawab,”Bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanya masalah matematika.” Tapi setelah berpikir beberapa saat, dia mengubah pikirannya lalu bilang,”Bukan itu. Saya akan bertanya,”Kenapa dunia ini diciptakan?” Karena, dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri.
14. Telegraph tanpa kabel tidak sulit untuk dimengerti. Telegraph biasa seperti kucing yang sangat panjang. Anda tarik ekornya di New York, dan mengeong di Los Angeles. Yang tanpa kabel sama saja, hanya tanpa kucingnya.
” The wireless telegraph is not difficult to understand. The ordinary telegraph is like a very long cat. You pull the tail in New York, and it meows in Los Angeles. The wireless is the same, only without the cat. “

15. Tuhan tidak bermain dadu.
” God doesn’t play dice. “
16. Kelemahan dalam tingkah laku menjadi kelemahan karakter.
“Weakness of attitude becomes weakness of character.“
17. Membaca, setelah beberapa waktu, menggelapkan pikiran terlalu jauh dari pencarian kreatif nya. Seseorang yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas untuk berpikir.
“ Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking.
18. Ketika ditanya dengan apa perang dunia III akan dilakukan, Einstein menjawab bahwa ia tidak tahu. Tapi dia mengetahui dengan apa perang dunia IV akan dilakukan: Dengan pentungan dan batu!
” When asked how World War III would be fought, Einstein replied that he didn’t know. But he knew how World War IV would be fought: With sticks and stones! “
19. Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.
” Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed. “
20. Kenyataan hanyalah sebuah ilusi, walaupun terjadi terus menerus.
” Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one. “
21. Jika teori relativitas terbukti sukses, Jerman akan mengklaim saya sebagai orang Jerman dan Perancis menyatakan bahwa saya seorang penduduk dunia. Seharusnya teori saya terbukti tidak benar, Perancis akan mengatakan saya orang Jerman dan Jerman akan mengatakan saya orang Yahudi.
“If my theory of relativity is proven successful, Germany will claim me as a German and France will declare that I am a citizen of the world. Should my theory prove untrue, France will say that I am a German and Germany will declare that I am a Jew.“
22. Nasionalisme adalah penyakit yang kekanak-kanakan. Itu adalah penyakit campak dari ras manusia.
“Nationalism is an infantile sickness. It is the measles of the human race.“
23. Sejak ahli matematika menginvasi teori relativitas. Saya tidak mengerti diri saya lagi.
24. Kaum intelektual memecahkan masalah, para jenius mencegah mereka.
“Intellectuals solve problems; genuises prevent them.“
25. Aku meyakini bahwa Dia (Tuhan) tidak bermain dadu.
“I am convinced that he ( God ) does not play dice.“
26. Hukum gravitasi tidak berlaku terhadap orang yang sedang jatuh cinta.
“Gravitation cannot be held responsible for people falling in love.“
27. Adalah mungkin untuk menjelaskan segala sesuatu secara ilmiah, tetapi itu membuatnya tanpa rasa; itu membuatnya tanpa arti, seperti jika anda menjelaskan Simfony Beethoven sebagai variasi dari tekanan udara.
“It would be possible to describe everything scientifically, but it would make no sense; it would be without meaning, as if you described a Beethoven symphony as a variation of wave pressure.”
28. Tugas sains antara lain adalah untuk menemukan keindahan alam.
29. Di tengah kesulitan terdapat kesempatan.
“In the middle of difficulty lies opportunity.”
30. Satu – satunya hal yang bertentangan dengan ilmu pengetahuanku adalah pendidikanku.
“The only thing that interferes with my learning is my education.”
31. Ketika anda berpacaran dengan cewek yang manis, satu jam seperti sedetik. Ketika anda duduk di atas tungku panas, sedetik serasa satu jam. Itulah relativitas.
“When you are courting a nice girl an hour seems like a second. When you sit on a red-hot cinder a second seems like an hour. That’s relativity.”
32. Itu tidak berarti saya cerdas, Itu hanya karena saya tetap dengan masalah tersebut lebih lama.
“It’s not that I’m so smart , it’s just that I stay with problems longer.”
33. Banyak orang mengatakan kepintaran yang menjadikan seseorang Ilmuwan besar. Mereka keliru.. itu adalah karakter.
“Many people say that the intelligence that make the great scientists. They are mistaken .. it is the characters.”
34. Masalah penting yang kita hadapi kini tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan masalah tersebut.
“We can not solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them.”
35. Hanya ada dua hal yang tidak terbatas, alam semesta dan kebodohan. Dan saya tidak yakin tentang alam semesta.
“There are only two truly infinite things, the universe and stupidity. And I am unsure about the universe.”
36. Ada dua cara untuk memahami kehidupan. Cara pertama dengan menyadari bahwa tidak ada hal yang mukjizat. Yang kedua menyadari bahwa semua hal adalah mukjizat.
“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

37. Intuisi lebih penting daripada penjelasan. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.
38. Cobalah tidak untuk menjadi seseorang yang sukses, tetapi menjadi seseorang yang bernilai.
“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.”
39. Seseorang memulai untuk hidup ketika ia dapat hidup diluar dirinya.
“A person starts to live when he can live outside himself.”
40. Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan
beritaunik.net
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Radio FM

Followers

Entri Terpopuler

Label

animasi beregerak naruto
animasi beregerak naruto