WELCOME TO Frisdiandi Blog
    Facebook Twitter Feedburner Google +1 Mail

Terjemahkan Kebahasa

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianBrazilJapaneseKoreanArabicChinese Simplified
Showing posts with label school. Show all posts
Showing posts with label school. Show all posts

Fakta Unik dan Konyol di Upacara Senin Pagi



Fakta Unik dan Konyol di Upacara Senin Pagi

sukague.com

 Agan-agan yang masih sekolah, atopun yang udah lulus sekolah pasti dah pernah ikutan yang namanya "Upacara Senin Pagi". Nah, tujuan upacara lazimnya adalah untuk mengingatkan kita atas jasa-jasa para pahlawan, memegang teguh pancasila, dan mensyukuri kemerdekaan kita.

Tapi terkadang, tujuan upacara sedikit melenceng dari tujuan utamanya bagi para murid dan guru, sebagai contoh akan dijelaskan di bawah ini:




PARA MURID
 

1. Ajang untuk saling bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan pada malam minggu.
Bila murid cowok bercerita tentang "cewek yang mereka ajak pergi malam kemaren", para murid cewek bercerita tentang "apa yang menimpa mereka pada malam minggu kemaren". Mungkin ada beberapa yang masih mendiskusikan tugas-tugas dan pelajaran-pelajaran, tapi karena kurang menarik, ane malas untuk membahasnya. 

2. Tempat untuk berdiskusi nongkrong sepulang sekolah.
Bisa nomat (nonton hemat), nongkrong di alun2 kota, jalan-jalan, ato sekedar jongkok di trotoar. Biasanya mereka mendiskusikan tentang siapa aja yang mau ikut, pake kendaraan apa, motornya cukup ato enggak, dll..

3. Saat yang tepat untuk memamerkan atribut yang mereka pakai.
Karena disaat ini seluruh angkatan bertemu, maka disinilah saat yang tepat untuk memamerkan atribut-atribut mereka, antara lain: Sepatu baru nitip ama kerabat di Singapore, ikat rambut yang lebih mirip umbul-umbul, potongan rambut baru, gelang yang seabrek, jaket baru yang sengaja dipakai walau keringat mengucur. 


PARA GURU
 

1. Tempat meminta dana kepada murid-murid

Seperti: Tambahan dana untuk gedung, fasilitas sekolah, yang entah dananya benar dipakai untuk keperluan tersebut, atau untuk menambah aksesori kendaraan pribadinya, biasanya motor.

2. Untuk bersenda gurau bersama rekan-rekan guru yang lain.

Kadang terlihat dari kejauhan, 3 orang guru atau lebih sedang tertawa-tertawa kecil walau pembina upacara sedang memberikan amanat upacara.

3. Untuk melecehkan murid yang berkelakuan buruk pada minggu kemarin, di depan 3 angkatan.
Tidak ada cara yang lebih baik dari mengisengi orang yang mereka kurang sukai. dengan membuat mereka malu di depan orang banyak.

4. Saat yang tepat untuk razia (rambut dan seragam murid)
Biasanya salah satu guru terlihat mengitari barisan- barisan murid, terkadang membawa penggaris kayu. Disaat itu pula murid2 was-was, dan terlihat beberapa murid mengkamuflasekan rambut gondrongnya dengan melipat rambut mereka ke topi. Biasanya waktu upacara senin pagi merupakan waktu yang sangat tepat. 



HAL-HAL YANG DIHARAPKAN MURID PADA WAKTU UPACARA
 

1. Pembina upacara menyampaikan amanatnya dengan waktu yang sangat lama, sehingga waktu untuk jam pelajaran pertama (yang biasanya kurang disukai murid-murid) terpakai oleh upacara, hal ini juga terkadang mengakibatkan ulangan ditunda (karena waktunya kurang).

2. Pembina upacara menyampaikan amanat hanya sebentar, sehingga upacara cepat selesai. Sisa waktu yang sedikit tersebut biasanya dimanfaatkan para murid untuk membeli jajanan ringan di kantin.

3. Hujan. Upacara bubar, waktu sisa untuk jajan semakin banyak. Waktu ini kadang juga dipakai untuk mengisi LKS (lembar kerja siswa) ataupun "belajar buat ulangan".

4. Bendera Terbalik. Hal ini merupakan "Bonus Hiburan" bagi para murid.  


(BONUS) TOP 10 LAGU-LAGU UPACARA

Dalam beberapa tahun ini chart lagu-lagu nasional kita mudah berubah-ubah. dapat kita lihat Ibu Kita Kartini turun satu peringkat dari tahun sebelumnya, dan yang baru masuk chart yaitu Indonesia Tetap Merdeka, dan Indonesia Raya masih memimpin di peringkat pertama selama 50 tahun terakhir ini.
1. Indonesia Raya
2. Padamu Negeri
3. Maju Tak Gentar
4. Garuda Pancasila
5. Hari Merdeka
6. Dari Sabang Sampai Merauke
7. Halo-halo Bandung8. Berkibarlah Benderaku
9. Indonesia Tetap Merdeka
10. Ibu Kita Kartini


Fakta Unik dan Konyol di Upacara Senin Pagi

sukague.com

 Agan-agan yang masih sekolah, atopun yang udah lulus sekolah pasti dah pernah ikutan yang namanya "Upacara Senin Pagi". Nah, tujuan upacara lazimnya adalah untuk mengingatkan kita atas jasa-jasa para pahlawan, memegang teguh pancasila, dan mensyukuri kemerdekaan kita.

Tapi terkadang, tujuan upacara sedikit melenceng dari tujuan utamanya bagi para murid dan guru, sebagai contoh akan dijelaskan di bawah ini:




PARA MURID
 

1. Ajang untuk saling bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan pada malam minggu.
Bila murid cowok bercerita tentang "cewek yang mereka ajak pergi malam kemaren", para murid cewek bercerita tentang "apa yang menimpa mereka pada malam minggu kemaren". Mungkin ada beberapa yang masih mendiskusikan tugas-tugas dan pelajaran-pelajaran, tapi karena kurang menarik, ane malas untuk membahasnya. 

2. Tempat untuk berdiskusi nongkrong sepulang sekolah.
Bisa nomat (nonton hemat), nongkrong di alun2 kota, jalan-jalan, ato sekedar jongkok di trotoar. Biasanya mereka mendiskusikan tentang siapa aja yang mau ikut, pake kendaraan apa, motornya cukup ato enggak, dll..

3. Saat yang tepat untuk memamerkan atribut yang mereka pakai.
Karena disaat ini seluruh angkatan bertemu, maka disinilah saat yang tepat untuk memamerkan atribut-atribut mereka, antara lain: Sepatu baru nitip ama kerabat di Singapore, ikat rambut yang lebih mirip umbul-umbul, potongan rambut baru, gelang yang seabrek, jaket baru yang sengaja dipakai walau keringat mengucur. 


PARA GURU
 

1. Tempat meminta dana kepada murid-murid

Seperti: Tambahan dana untuk gedung, fasilitas sekolah, yang entah dananya benar dipakai untuk keperluan tersebut, atau untuk menambah aksesori kendaraan pribadinya, biasanya motor.

2. Untuk bersenda gurau bersama rekan-rekan guru yang lain.

Kadang terlihat dari kejauhan, 3 orang guru atau lebih sedang tertawa-tertawa kecil walau pembina upacara sedang memberikan amanat upacara.

3. Untuk melecehkan murid yang berkelakuan buruk pada minggu kemarin, di depan 3 angkatan.
Tidak ada cara yang lebih baik dari mengisengi orang yang mereka kurang sukai. dengan membuat mereka malu di depan orang banyak.

4. Saat yang tepat untuk razia (rambut dan seragam murid)
Biasanya salah satu guru terlihat mengitari barisan- barisan murid, terkadang membawa penggaris kayu. Disaat itu pula murid2 was-was, dan terlihat beberapa murid mengkamuflasekan rambut gondrongnya dengan melipat rambut mereka ke topi. Biasanya waktu upacara senin pagi merupakan waktu yang sangat tepat. 



HAL-HAL YANG DIHARAPKAN MURID PADA WAKTU UPACARA
 

1. Pembina upacara menyampaikan amanatnya dengan waktu yang sangat lama, sehingga waktu untuk jam pelajaran pertama (yang biasanya kurang disukai murid-murid) terpakai oleh upacara, hal ini juga terkadang mengakibatkan ulangan ditunda (karena waktunya kurang).

2. Pembina upacara menyampaikan amanat hanya sebentar, sehingga upacara cepat selesai. Sisa waktu yang sedikit tersebut biasanya dimanfaatkan para murid untuk membeli jajanan ringan di kantin.

3. Hujan. Upacara bubar, waktu sisa untuk jajan semakin banyak. Waktu ini kadang juga dipakai untuk mengisi LKS (lembar kerja siswa) ataupun "belajar buat ulangan".

4. Bendera Terbalik. Hal ini merupakan "Bonus Hiburan" bagi para murid.  


(BONUS) TOP 10 LAGU-LAGU UPACARA

Dalam beberapa tahun ini chart lagu-lagu nasional kita mudah berubah-ubah. dapat kita lihat Ibu Kita Kartini turun satu peringkat dari tahun sebelumnya, dan yang baru masuk chart yaitu Indonesia Tetap Merdeka, dan Indonesia Raya masih memimpin di peringkat pertama selama 50 tahun terakhir ini.
1. Indonesia Raya
2. Padamu Negeri
3. Maju Tak Gentar
4. Garuda Pancasila
5. Hari Merdeka
6. Dari Sabang Sampai Merauke
7. Halo-halo Bandung8. Berkibarlah Benderaku
9. Indonesia Tetap Merdeka
10. Ibu Kita Kartini
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Lebih Susah Sukses Kalau Kita Sekolah

Lebih Susah Sukses Kalau Kita Sekolah


Ada yang melontarkan pernyataan seperti ini: Sukses memang susah, tapi lebih susah lagi kalau sukses tanpa sekolah.

Kebenaran memang bersifat relatif. Saya tidak berniat melakukan generalisasi. Saya hanya ingin menunjukkan kontra dari argumen di atas.

Bob Sadino, seorang entrepreneur terkemuka Indonesia justru memberikan nasehat seperti ini: kalau mau sukses, saya katakan pada kamu; besok kamu keluar sekolah.

Lawrence Ellison, pengusaha yang langganan jadi 10 orang terkaya di dunia berpesan kepada para mahasiswa: kemasilah barang dan isi benakmu dan keluar (sekolah) sekarang juga.
Robert T. Kiyosaki, seorang pengajar ilmu kekayaan ternama, menulis buku bestseller yang berjudul, “If you want to be rich and happy, don’t go to school.”

Soichiro Honda, pendiri perusahaan yang merajai pasar otomotif dunia pernah berkata dalam satu wawancara, “Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui.”

John Lennon, musisi legendaris dunia, pernah menulis dalam buku hariannya:
“Disekolah, tidakkah mereka melihat bahwa aku jauh lebih pintar dari murid-murid lainya? Tidakkah mereka melihat bahwa para guru itulah sebenarnya yang bodoh..? Bahwa segala informasi yang mereka miliki dan ajarkan itu sama sekali tidak aku butuhkan. Ini sangat jelas bagiku.”

Bill Gates merasa kalau sekolah/kuliah justru memperlambat kecepatan suksesnya. Maka orang yang pada akhirnya jadi langganan nomor 1 terkaya di dunia ini cepat-cepat keluar dari Harvard University. Demikian pula tokoh terbaru dunia internet, Mark Zuckerberg, punya anggapan kuliahnya hanya akan mengganggu fokusnya terhadap pengembangan facebook. Jadi dia ikuti jejak seniornya dengan DO dari universitas yang sama.

Bagi Pele, pemain bola terbesar sepanjang masa, sekolah cuma mengganggu perjalanan suksesnya. Saat kelas empat SD dia cabut saja dari situ untuk lebih mudah meraih cita-cita, sebagai peraih tiga Piala Dunia (sepanjang masa hanya Pele yang bisa melakukannya. Jauh lebih baik dibanding nggak pernah lolos sekalipun ke PD).

Michael Jackson nggak pernah sekolah. Dan pastinya jika dia sekolah kujamin akan membuatnya lebih susah untuk jadi penyanyi pop terbesar sepanjang masa (bayangin aja kan waktunya buat nyanyi dan menyempurnakan dance dan vokalnya malah dihabiskan buat sekolah). Demikian pula eminem. Sekolah cuma menyusahkannya saja untuk jadi rapper paling terkenal. Dia keluar waktu SMA. Bob Marley, legenda musik reggae nomor satu, malah keluar lebih cepat yaitu sewaktu SMP.

Saya tuliskan di sini: manusia terlalu beragam untuk dipaksakan berada di satu tempat yang sama. Dengan kata lain, aku tidak setuju kalau semua orang wajib buat sekolah. Aku tidak setuju kalau sekolah disamakan dengan pendidikan. Dan akan kuperjuangkan prinsip ini selama aku masih hidup. Walau aku tak tahu apa yang bakal terjadi nanti. Hidup itu berproses.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca wacana baru, yaitu sebuah buku berjudul Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat. James Marcus Bach, penulisnya, memberi nasehat kepada kita, “Pendidikan memang penting, tetapi sekolah tidak.”

Lebih Susah Sukses Kalau Kita Sekolah


Ada yang melontarkan pernyataan seperti ini: Sukses memang susah, tapi lebih susah lagi kalau sukses tanpa sekolah.

Kebenaran memang bersifat relatif. Saya tidak berniat melakukan generalisasi. Saya hanya ingin menunjukkan kontra dari argumen di atas.

Bob Sadino, seorang entrepreneur terkemuka Indonesia justru memberikan nasehat seperti ini: kalau mau sukses, saya katakan pada kamu; besok kamu keluar sekolah.

Lawrence Ellison, pengusaha yang langganan jadi 10 orang terkaya di dunia berpesan kepada para mahasiswa: kemasilah barang dan isi benakmu dan keluar (sekolah) sekarang juga.
Robert T. Kiyosaki, seorang pengajar ilmu kekayaan ternama, menulis buku bestseller yang berjudul, “If you want to be rich and happy, don’t go to school.”

Soichiro Honda, pendiri perusahaan yang merajai pasar otomotif dunia pernah berkata dalam satu wawancara, “Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui.”

John Lennon, musisi legendaris dunia, pernah menulis dalam buku hariannya:
“Disekolah, tidakkah mereka melihat bahwa aku jauh lebih pintar dari murid-murid lainya? Tidakkah mereka melihat bahwa para guru itulah sebenarnya yang bodoh..? Bahwa segala informasi yang mereka miliki dan ajarkan itu sama sekali tidak aku butuhkan. Ini sangat jelas bagiku.”

Bill Gates merasa kalau sekolah/kuliah justru memperlambat kecepatan suksesnya. Maka orang yang pada akhirnya jadi langganan nomor 1 terkaya di dunia ini cepat-cepat keluar dari Harvard University. Demikian pula tokoh terbaru dunia internet, Mark Zuckerberg, punya anggapan kuliahnya hanya akan mengganggu fokusnya terhadap pengembangan facebook. Jadi dia ikuti jejak seniornya dengan DO dari universitas yang sama.

Bagi Pele, pemain bola terbesar sepanjang masa, sekolah cuma mengganggu perjalanan suksesnya. Saat kelas empat SD dia cabut saja dari situ untuk lebih mudah meraih cita-cita, sebagai peraih tiga Piala Dunia (sepanjang masa hanya Pele yang bisa melakukannya. Jauh lebih baik dibanding nggak pernah lolos sekalipun ke PD).

Michael Jackson nggak pernah sekolah. Dan pastinya jika dia sekolah kujamin akan membuatnya lebih susah untuk jadi penyanyi pop terbesar sepanjang masa (bayangin aja kan waktunya buat nyanyi dan menyempurnakan dance dan vokalnya malah dihabiskan buat sekolah). Demikian pula eminem. Sekolah cuma menyusahkannya saja untuk jadi rapper paling terkenal. Dia keluar waktu SMA. Bob Marley, legenda musik reggae nomor satu, malah keluar lebih cepat yaitu sewaktu SMP.

Saya tuliskan di sini: manusia terlalu beragam untuk dipaksakan berada di satu tempat yang sama. Dengan kata lain, aku tidak setuju kalau semua orang wajib buat sekolah. Aku tidak setuju kalau sekolah disamakan dengan pendidikan. Dan akan kuperjuangkan prinsip ini selama aku masih hidup. Walau aku tak tahu apa yang bakal terjadi nanti. Hidup itu berproses.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca wacana baru, yaitu sebuah buku berjudul Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat. James Marcus Bach, penulisnya, memberi nasehat kepada kita, “Pendidikan memang penting, tetapi sekolah tidak.”
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Topik Spesial Untuk Sekolah Ku Tercinta


     Khusus untuk Topik yang baru-baru ini saya share kepada anda-anda sekalian yang bertema Schools (untuk lebih lengkap klik link ini), topik ini tidak ada unsur apapun, tapi hanya menyadarkan masyarakat kalau sekarang sekolah di Indonesia Sudah sangat sangat TERPURUK, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak lulus ujian T.O minggu lalu, tapi ini hanya memperlihatkan kepada masyarakat bahwa inilah TEMPAT MENUNTUT ILMU yang di percayai oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan anak mereka sukses, bahagia, dan kaya raya.

     Tapi nyatanya "TIDAK" sekolah di Indonesia hanya mengajarkan hal hal yang membosankan dan tidak berguna untuk masa depan kita nanti, pernah oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi” itu adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia telah di program untuk menjadi PNS, dan yang paling berbahaya lagi sekolah sangat mementingkan "NILAI" karena Nilai ujian yang lebih diutamakan daripada proses pembelajaran

     Dan lain halnya dengan beberapa guru-guru yang selalu memakai TOPENG dia mengatakan hal-hal yang munafik seperti "tidak boleh menyontek, menyontek itu haram" atau "nanti siapa yang mencontek harus keluar"dan sebagainya, TETAPI setelah guru-guru tersebut mengawas pada saat ujian, mereka entah pura-pura tidak tahu atau bagaimana(yang jelas mereka pasti tahu), seolah olah mereka tidak tahu, dengan kepura-puraan tersebut mereka seperti membuka peluang nyontek kepada murid-muridnya, entah itu mereka pergi keluar atau pura-pura mengobrol dengan guru lainya yang mengawas, lalu deengan makna yang tersirat tersebut mereka membiarkan para murid MENYONTEK, MELIHAT BUKU, DAN ADA PULA YANG SMS-an dengan teman atau orang tuanya yang kebetulan seorang guru, Apakah itu Namanya seorang Guru, apakah Pantas seorang guru bertindak seperti itu, entah mereka mau mengharumkan kembali nama sekolah yang mungkin telah ternoda itu dengan mengajarkan para siswa berbohong dengan cara curang seperti di atas. 

     Contohnya: ada sebuah sekolah, sekolah tersebut telah melaksanakan 2 kali ujian, dari hasil ujian yang pertama sampai yang kedua mengalami kenaikan yang sangat drastis. Pada ujian pertama yang terdiri dari 5 paket soal, meluluskan hanya 20% dari keseluruhan murid kelas 9 di sekolah trsb, tapi di waktu ujian ke 2 di laksanakan, yang soalnya terdiri dari 2 paket soal, jumlah murid yang lulus meningkat hingga 60% WAW fantastis sekali bukan, apakah yang terjadi pada saat ujian tersebut? apakah para muridnya melakukan kecurangan? Wallahu alam bissawab, ini bukanlah hasil rekayasa saya sendiri, karena SAYA BERANI MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAAN TERSEBUT, karena itu adalah FAKTA, lalu apakah semua siswa yang lulus(yang lulus bukan dari hasil jerih payahnya sendiri) itu PINTAR dan siswa yang Tidak lulus(tetapi ini adalah hasil murni dari jerih payahnya bukan karena kecurangan2) itu BODOH?,  Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus
 hanya untuk sebagai pengisi IJAZAH yang merupakan selembar kertas SAMPAH yang menjerumuskan masyarakat. MENGAPA,karena jika IJAZAH di isi dengan kecurangan kecurangan, maka isinya sama dengan SAMPAH dan dapat menjerumuskan masyarakat seperti seorang Guru yang Selalu memakai buku (alias materi tidak dikuasai olehnya, karena itu dia hanya membacakan buku tersebut.) ketika  menerangkan pelajaran kepada siswa-siswinya karena ketidak matanganya untuk menjadi seorang guru (entah mungkin karena dia selalu mencontek saat ujian? )

     Memang Menyontek itu adalah hal yang telah membudaya di Indonesia, tetapi kalau menyontek di perbolehkan, lebih baik kita tidak perlu belajar(maksudnya belajar di SEKOALAH), pas ada ujian bagikan saja kunci jawabanya langsung, tidak susah-susahkan kalau hanya untuk mendapatkan nilai?, karena pada kenyataanya menyontek dan melihat kunci itu adalah sama-sama suatu KECURAANGAN. jadi umpamanya ada seorang murid yang jadi KORUPTOR (persamaan Korupsi dan Mencontek silahkan klik post saya ini) siapakah yang patut di persalahkan.?

MAU DI BAWA KEMANA PENDIDIKAN DI INDONESIA KITA INI ?...     
     Yang saya maksud "GURU" dalam pernyataan diatas adalah guru-guru yang melakukan perbuatan seperti yang saya sebutkan tadi, bukan SELURUH GURU YANG ADA DI INDONESIA, dan tidak dapat di pungkiri betapa banyak jeritan2 rakyat yang tidak di dengar oleh para pemimpin2 besar (ya, mungkin seperti jeritan saya ini ^_^), ini hanya sekedar memberitahukan kepada masyarakat dan para guru-guru yang lain agar mengharamkan perbuatan tercela tersebut.

Dan memang pendidikan sangat penting tetapi sekolah tidak penting
Insyaallah kalau ada kesempatan lain saya akan mengupdate terus blog saya.

untuk lebih lengkap lagi silahkan mengunjungi link ini school


Salam hangat dari Seorang Siswa yang merasakan keganasan sekolah yang telah menyerang secara
membabi buta.


Student from SMPN1 P.P


Admin
Ad-Lee
wassalam

     Khusus untuk Topik yang baru-baru ini saya share kepada anda-anda sekalian yang bertema Schools (untuk lebih lengkap klik link ini), topik ini tidak ada unsur apapun, tapi hanya menyadarkan masyarakat kalau sekarang sekolah di Indonesia Sudah sangat sangat TERPURUK, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak lulus ujian T.O minggu lalu, tapi ini hanya memperlihatkan kepada masyarakat bahwa inilah TEMPAT MENUNTUT ILMU yang di percayai oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan anak mereka sukses, bahagia, dan kaya raya.

     Tapi nyatanya "TIDAK" sekolah di Indonesia hanya mengajarkan hal hal yang membosankan dan tidak berguna untuk masa depan kita nanti, pernah oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi” itu adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia telah di program untuk menjadi PNS, dan yang paling berbahaya lagi sekolah sangat mementingkan "NILAI" karena Nilai ujian yang lebih diutamakan daripada proses pembelajaran

     Dan lain halnya dengan beberapa guru-guru yang selalu memakai TOPENG dia mengatakan hal-hal yang munafik seperti "tidak boleh menyontek, menyontek itu haram" atau "nanti siapa yang mencontek harus keluar"dan sebagainya, TETAPI setelah guru-guru tersebut mengawas pada saat ujian, mereka entah pura-pura tidak tahu atau bagaimana(yang jelas mereka pasti tahu), seolah olah mereka tidak tahu, dengan kepura-puraan tersebut mereka seperti membuka peluang nyontek kepada murid-muridnya, entah itu mereka pergi keluar atau pura-pura mengobrol dengan guru lainya yang mengawas, lalu deengan makna yang tersirat tersebut mereka membiarkan para murid MENYONTEK, MELIHAT BUKU, DAN ADA PULA YANG SMS-an dengan teman atau orang tuanya yang kebetulan seorang guru, Apakah itu Namanya seorang Guru, apakah Pantas seorang guru bertindak seperti itu, entah mereka mau mengharumkan kembali nama sekolah yang mungkin telah ternoda itu dengan mengajarkan para siswa berbohong dengan cara curang seperti di atas. 

     Contohnya: ada sebuah sekolah, sekolah tersebut telah melaksanakan 2 kali ujian, dari hasil ujian yang pertama sampai yang kedua mengalami kenaikan yang sangat drastis. Pada ujian pertama yang terdiri dari 5 paket soal, meluluskan hanya 20% dari keseluruhan murid kelas 9 di sekolah trsb, tapi di waktu ujian ke 2 di laksanakan, yang soalnya terdiri dari 2 paket soal, jumlah murid yang lulus meningkat hingga 60% WAW fantastis sekali bukan, apakah yang terjadi pada saat ujian tersebut? apakah para muridnya melakukan kecurangan? Wallahu alam bissawab, ini bukanlah hasil rekayasa saya sendiri, karena SAYA BERANI MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAAN TERSEBUT, karena itu adalah FAKTA, lalu apakah semua siswa yang lulus(yang lulus bukan dari hasil jerih payahnya sendiri) itu PINTAR dan siswa yang Tidak lulus(tetapi ini adalah hasil murni dari jerih payahnya bukan karena kecurangan2) itu BODOH?,  Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus
 hanya untuk sebagai pengisi IJAZAH yang merupakan selembar kertas SAMPAH yang menjerumuskan masyarakat. MENGAPA,karena jika IJAZAH di isi dengan kecurangan kecurangan, maka isinya sama dengan SAMPAH dan dapat menjerumuskan masyarakat seperti seorang Guru yang Selalu memakai buku (alias materi tidak dikuasai olehnya, karena itu dia hanya membacakan buku tersebut.) ketika  menerangkan pelajaran kepada siswa-siswinya karena ketidak matanganya untuk menjadi seorang guru (entah mungkin karena dia selalu mencontek saat ujian? )

     Memang Menyontek itu adalah hal yang telah membudaya di Indonesia, tetapi kalau menyontek di perbolehkan, lebih baik kita tidak perlu belajar(maksudnya belajar di SEKOALAH), pas ada ujian bagikan saja kunci jawabanya langsung, tidak susah-susahkan kalau hanya untuk mendapatkan nilai?, karena pada kenyataanya menyontek dan melihat kunci itu adalah sama-sama suatu KECURAANGAN. jadi umpamanya ada seorang murid yang jadi KORUPTOR (persamaan Korupsi dan Mencontek silahkan klik post saya ini) siapakah yang patut di persalahkan.?

MAU DI BAWA KEMANA PENDIDIKAN DI INDONESIA KITA INI ?...     
     Yang saya maksud "GURU" dalam pernyataan diatas adalah guru-guru yang melakukan perbuatan seperti yang saya sebutkan tadi, bukan SELURUH GURU YANG ADA DI INDONESIA, dan tidak dapat di pungkiri betapa banyak jeritan2 rakyat yang tidak di dengar oleh para pemimpin2 besar (ya, mungkin seperti jeritan saya ini ^_^), ini hanya sekedar memberitahukan kepada masyarakat dan para guru-guru yang lain agar mengharamkan perbuatan tercela tersebut.

Dan memang pendidikan sangat penting tetapi sekolah tidak penting
Insyaallah kalau ada kesempatan lain saya akan mengupdate terus blog saya.

untuk lebih lengkap lagi silahkan mengunjungi link ini school


Salam hangat dari Seorang Siswa yang merasakan keganasan sekolah yang telah menyerang secara
membabi buta.


Student from SMPN1 P.P


Admin
Ad-Lee
wassalam
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Guruku Masih Pantaskah Engkau Menyandang Gelar "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"

Guru adalah bagian terpenting dalam pendidikan di Indonesia, Guru merupakan panutan dan inspirasi murid-murid dalam mengembangkan diri.Semua orang di dunia tahu kalau Guru adalah panutan dan tanpa guru maka nereka mungkin tidak bisa menjadi seseorang yang cerdas kemampuanya, peran guru tidak akan pernah tergantikan sampai kapan pun.


     Berbicara tentang guru maka kita akan teringat kalimat yang berbunyi  "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa".Sekarang kalimat tersebut menjadi sebuah pertanyaan, masih berlakukah kalimat itu.?, apakah kalimat tersebut hanya untuk guru-guru pada masa lalu, apakah banyak perbedaan guru sekarang dengan guru di masa lalu?.Paradigma seorang guru yang hanya memperlemah pendidikan di Indonesia saat ini. apakah yang salah?, si gurukah,sistem pendidikankah, atau siswalah yang patut di persalahkan.

     Jika kita melihat ke masa lalu dimana peran guru pada masa lalu adalah sebuah pekerjaan panggilan hati.Guru menjadikan profesinya sebagai sebuah tindakan pengabdian kepada masyarakat agar masyarakat menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Hingga kita melihat banyak guru yang di gaji kecil tapi tetap mengabdi kepada para murid-muridnya. Mereka terus bersabar dan bersabar dalam kondisi itu makanya sebutan "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" adalah isitlah yang layak untuk para guru semacam itu.

     Bagaimana dengan kondisi guru sekarang ini ? pernahkah kita memikirkan dan membandingkan  guru-guru kita sekarang dengan yang di masa lalu. Guru sekarang  bukan lagi sebuah panggilan hati. Menjadi Guru adalah sebuah panggilan harapan untuk kesejahteraan. hingga menghasilkan sesuatu  yang sangat berrti bagi dunia pendidikan.Misalnya banyak dari para guru yang tidak bagus dalam mengajar mendapat sertifikasi alias tambhan gaji. Kualitas mengajar sangat rendah tapi mendapat gaji tambahan. Perbandingan yang sangat berarti ketika ada guru yang sangat dan memberikan kemampuan terbiknya untuk para muridnya tetapi tidak lolos sertifikasi.

     Kita tidak membahas tentang sertifikaasi tapi saat ini kita membahas kemana guru-guru kita saat ini terbawa . Dunia yang serba kapitalis ini membuat dunia pendidikan dan khususnya para guru seakan bingung dan gamang. Profesi guru, gaji dan prospek masa depan bagus yang membuat para mahasiswa banyak yang ingin menjadi guru.Namun, menjadi masalah utama adalah kompetensi guru-guru di Indonesia sangatlah kurang.Gaji dan tunjangan untuk guru yang tinggi seharusnmya di barengi dengan peningkatan kinerja dan kualitas yang baik.Kualitas guru seharusnya menjadi takaran dalam memberikan tunjangan yang sepadan dengan kinerja mereka dalam mengajar.

     Adalagi yang harus dipertanyakan, yaitu moral guru, banyaknya guru-guru yang tidak disiplin selalu terlambat kalau datang ke sekolah,mengapa murid harus di hukum ketika terlambat datang tapi gurunya saja juga terlambat, mungkin banyak orang mengatakan "Murid dan Guru tidak boleh di samakan" tetapi guru kan perlu juga sanksi atas ketidak di siplinanya tersebut, lain halnya dengan datang terlambat, Kemari saya melihat seorang oknum guru yang MEROKOK di tempat yang seharusnya tidak boleh merokok, yaitu di sekolah lebih tepatnya di perpustakaan, apakah guru-guru tersebut patut di contoh?, dan yang paling mengecewakan lagi adanya Guru yang membantu siswa dalam berbuat curang dalam pelaksanaan ujian entah itu secara tersurat atau tersirat. padahal guru harusnya memberikan teladan yang baik dan pengajar yang jujur.Jika mereka di biarkan tidak jujur. bukan salah siswa di masa depan jika mereka juga akan korupsi dan lain sebagainya, karena guru mereka sendiri mengajarkan hal yang tercela dan tidak jujur.

Guru yang baik harus memenuhi syarat agar nenberikan hal yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. ada beberapa hal mengapa mereka harus mengevaluasi diri mereka sebagai seorang guru:

  1. Guru lebih mementingkan karir ketimbang mengajar para siswa yang memerlukan pengajaran.
  2. Guru lebih senang mengajar apa adanya ketimbang memberikan sesuatu yang bisa membuat para siswa tertarik dalam mengajar.
  3. Kurangnya peran guru dalam membentuk potensi dan karakter yang baik bagi para siswa
  4. Minimnya keahlian wawasan dan pengetahuan guru karena hanya fokus pada buku yang di bawakan.
  5. Guru lebih mementingkan kepentingan sendiri seperti menuntut tambahan Ekonomi dari pada mengajar para siswanya.
  6. Guru malu mengakui jika dia gagal mengajari para siswanya sehinmgga mengahalkan segala cara agar para sisiwa lulus ujian meskipun dengan melakukan kecurangan.

Hal inilah yang menjadi takaran bagi para guru saat ini. Pandangan "guru pahlawan tanpa tanda jasa" masihkah pantas di berikan kepada profesi guru saat ini. Guru Indonesia harus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru harus terus meningkatkan kompetensi mengajar agar kegagalan tidak di dapatkan oleh para siswa. Jika menjadi seorang guru merupakan hanya karena mendapat kesejhteraan dan UANG maka hancurlah dunia pendidikan di Indonesia.Hal ini karena mereka yang punya pandangan seperti hal tersebut akan menjadi malas-malasan karena bagi mereka mengajar atau tidak mengajar meraka disejahterakan oleh negara.

Wassalam  
Guru adalah bagian terpenting dalam pendidikan di Indonesia, Guru merupakan panutan dan inspirasi murid-murid dalam mengembangkan diri.Semua orang di dunia tahu kalau Guru adalah panutan dan tanpa guru maka nereka mungkin tidak bisa menjadi seseorang yang cerdas kemampuanya, peran guru tidak akan pernah tergantikan sampai kapan pun.


     Berbicara tentang guru maka kita akan teringat kalimat yang berbunyi  "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa".Sekarang kalimat tersebut menjadi sebuah pertanyaan, masih berlakukah kalimat itu.?, apakah kalimat tersebut hanya untuk guru-guru pada masa lalu, apakah banyak perbedaan guru sekarang dengan guru di masa lalu?.Paradigma seorang guru yang hanya memperlemah pendidikan di Indonesia saat ini. apakah yang salah?, si gurukah,sistem pendidikankah, atau siswalah yang patut di persalahkan.

     Jika kita melihat ke masa lalu dimana peran guru pada masa lalu adalah sebuah pekerjaan panggilan hati.Guru menjadikan profesinya sebagai sebuah tindakan pengabdian kepada masyarakat agar masyarakat menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Hingga kita melihat banyak guru yang di gaji kecil tapi tetap mengabdi kepada para murid-muridnya. Mereka terus bersabar dan bersabar dalam kondisi itu makanya sebutan "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" adalah isitlah yang layak untuk para guru semacam itu.

     Bagaimana dengan kondisi guru sekarang ini ? pernahkah kita memikirkan dan membandingkan  guru-guru kita sekarang dengan yang di masa lalu. Guru sekarang  bukan lagi sebuah panggilan hati. Menjadi Guru adalah sebuah panggilan harapan untuk kesejahteraan. hingga menghasilkan sesuatu  yang sangat berrti bagi dunia pendidikan.Misalnya banyak dari para guru yang tidak bagus dalam mengajar mendapat sertifikasi alias tambhan gaji. Kualitas mengajar sangat rendah tapi mendapat gaji tambahan. Perbandingan yang sangat berarti ketika ada guru yang sangat dan memberikan kemampuan terbiknya untuk para muridnya tetapi tidak lolos sertifikasi.

     Kita tidak membahas tentang sertifikaasi tapi saat ini kita membahas kemana guru-guru kita saat ini terbawa . Dunia yang serba kapitalis ini membuat dunia pendidikan dan khususnya para guru seakan bingung dan gamang. Profesi guru, gaji dan prospek masa depan bagus yang membuat para mahasiswa banyak yang ingin menjadi guru.Namun, menjadi masalah utama adalah kompetensi guru-guru di Indonesia sangatlah kurang.Gaji dan tunjangan untuk guru yang tinggi seharusnmya di barengi dengan peningkatan kinerja dan kualitas yang baik.Kualitas guru seharusnya menjadi takaran dalam memberikan tunjangan yang sepadan dengan kinerja mereka dalam mengajar.

     Adalagi yang harus dipertanyakan, yaitu moral guru, banyaknya guru-guru yang tidak disiplin selalu terlambat kalau datang ke sekolah,mengapa murid harus di hukum ketika terlambat datang tapi gurunya saja juga terlambat, mungkin banyak orang mengatakan "Murid dan Guru tidak boleh di samakan" tetapi guru kan perlu juga sanksi atas ketidak di siplinanya tersebut, lain halnya dengan datang terlambat, Kemari saya melihat seorang oknum guru yang MEROKOK di tempat yang seharusnya tidak boleh merokok, yaitu di sekolah lebih tepatnya di perpustakaan, apakah guru-guru tersebut patut di contoh?, dan yang paling mengecewakan lagi adanya Guru yang membantu siswa dalam berbuat curang dalam pelaksanaan ujian entah itu secara tersurat atau tersirat. padahal guru harusnya memberikan teladan yang baik dan pengajar yang jujur.Jika mereka di biarkan tidak jujur. bukan salah siswa di masa depan jika mereka juga akan korupsi dan lain sebagainya, karena guru mereka sendiri mengajarkan hal yang tercela dan tidak jujur.

Guru yang baik harus memenuhi syarat agar nenberikan hal yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. ada beberapa hal mengapa mereka harus mengevaluasi diri mereka sebagai seorang guru:

  1. Guru lebih mementingkan karir ketimbang mengajar para siswa yang memerlukan pengajaran.
  2. Guru lebih senang mengajar apa adanya ketimbang memberikan sesuatu yang bisa membuat para siswa tertarik dalam mengajar.
  3. Kurangnya peran guru dalam membentuk potensi dan karakter yang baik bagi para siswa
  4. Minimnya keahlian wawasan dan pengetahuan guru karena hanya fokus pada buku yang di bawakan.
  5. Guru lebih mementingkan kepentingan sendiri seperti menuntut tambahan Ekonomi dari pada mengajar para siswanya.
  6. Guru malu mengakui jika dia gagal mengajari para siswanya sehinmgga mengahalkan segala cara agar para sisiwa lulus ujian meskipun dengan melakukan kecurangan.

Hal inilah yang menjadi takaran bagi para guru saat ini. Pandangan "guru pahlawan tanpa tanda jasa" masihkah pantas di berikan kepada profesi guru saat ini. Guru Indonesia harus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru harus terus meningkatkan kompetensi mengajar agar kegagalan tidak di dapatkan oleh para siswa. Jika menjadi seorang guru merupakan hanya karena mendapat kesejhteraan dan UANG maka hancurlah dunia pendidikan di Indonesia.Hal ini karena mereka yang punya pandangan seperti hal tersebut akan menjadi malas-malasan karena bagi mereka mengajar atau tidak mengajar meraka disejahterakan oleh negara.

Wassalam  
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sekolah Tidak Berguna

Apa gunanya kita bersekolah? Mencari kepintaran? Mencari kepandaian? Mencari ilmu?

Coba anda bayangkan jika di sekolah tidak ada nilai dan ijazah, apakah anda masih akan bersekolah?

Nilai ujian sebenarnya hanyalah tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Sedangkan ijazah hanyalah penghargaan yang diberikan kepada siswa karena kerja kerasnya selama bersekolah.

Tapi bagaimana kenyataannya sekarang? Nilai ujian lebih diutamakan daripada proses pembelajaran. Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus, tanpa memperhatikan kesehariannya belajar dan caranya mengerjakan ujian (bisa saja kan saat Ujian Nasional dapat “wangsit” mendadak).

Tapi apa benar siswa yang nilainya bagus adalah siswa yang pintar? Belum tentu. Coba lihat ke sekolah-sekolah. Bandingkan jumlah siswa yang menyontek saat ujian dan siswa yang mengerjakan pekerjaannya sendiri saat ujian. Akan terlihat perbandingan yang sungguh menakjubkan. Hal itu bukan hanya terjadi di SD, SMP, atau SMA saja, bahkan di universitas pun kegiatan menyontek ini seperti membudaya.

Semua siswa pasti ingin dianggap pintar. Dan kepintaran seorang siswa identik dengan nilai yang bagus. Itulah salah satu sebab siswa menyontek untuk mencari nilai yang bagus.

Lalu bagaimana solusinya? Ingat sekolah adalah tempat belajar dan sekolah bukan hanya tempat mencari ijazah. Belajar bukanlah usaha untuk mencari nilai. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Jadi apa gunanya sekolah
Apa gunanya kita bersekolah? Mencari kepintaran? Mencari kepandaian? Mencari ilmu?

Coba anda bayangkan jika di sekolah tidak ada nilai dan ijazah, apakah anda masih akan bersekolah?

Nilai ujian sebenarnya hanyalah tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Sedangkan ijazah hanyalah penghargaan yang diberikan kepada siswa karena kerja kerasnya selama bersekolah.

Tapi bagaimana kenyataannya sekarang? Nilai ujian lebih diutamakan daripada proses pembelajaran. Hal itu terlihat di sekolah-sekolah saat ini. Siswa yang nilai ujiannya bagus dianggap siswa yang pintar. Begitu pula saat Ujian Nasional, siswa yang nilainya memenuhi standar dianggap lulus, tanpa memperhatikan kesehariannya belajar dan caranya mengerjakan ujian (bisa saja kan saat Ujian Nasional dapat “wangsit” mendadak).

Tapi apa benar siswa yang nilainya bagus adalah siswa yang pintar? Belum tentu. Coba lihat ke sekolah-sekolah. Bandingkan jumlah siswa yang menyontek saat ujian dan siswa yang mengerjakan pekerjaannya sendiri saat ujian. Akan terlihat perbandingan yang sungguh menakjubkan. Hal itu bukan hanya terjadi di SD, SMP, atau SMA saja, bahkan di universitas pun kegiatan menyontek ini seperti membudaya.

Semua siswa pasti ingin dianggap pintar. Dan kepintaran seorang siswa identik dengan nilai yang bagus. Itulah salah satu sebab siswa menyontek untuk mencari nilai yang bagus.

Lalu bagaimana solusinya? Ingat sekolah adalah tempat belajar dan sekolah bukan hanya tempat mencari ijazah. Belajar bukanlah usaha untuk mencari nilai. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Jadi apa gunanya sekolah
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tips Jadi Kaya raya dengan berhenti sekolah


TULISAN ini dilatari tiga hal. Pertama, menyikapi bursa kerja fair yang rutin diadakan diseluruh provinsi di Indonesia. Kedua, Kurikulum pendidikan kita yang lebih mengarahkan siswa untuk condong menjadi orang gajian. Ketiga, keinginan manusia yang sangat normatif yaitu ingin menjalani hidup dengan berkecukupan.
Dari akar masalah itu, saya banyak mendengarkan para orang tua yang berkata seperti ini: “Dibanding mewariskan harta saya lebih cenderung mewariskan ilmu pada anak saya karena bila dititipkan harta pasti habis. Tapi bila dititipkan ilmu mereka akan bisa hidup makmur, nyaman dan mandiri.”
Benarkah jika anak dititipkan ilmu dengan sekolah setinggi tingginya dapat hidup makmur? “Paradigma usang” seperti itu, penulis dengar dari mayoritas orang tua mulai dari orang tua biasa hingga yang berpendidikan tinggi. Paradigma yang melahirkan statemen bahwa pendidikan dapat membuat hidup berkecukupan memang tidak salah. Banyak sarjana (apalagi sarjana kedokteran) yang memiliki kehidupan yang mapan. Tapi tak sedikit juga sarjana hidup sederhana saja. Bahkan menganggur.

Sebenarnya yang saya sayangkan dengan statemen tersebut adalah “Pendidikan” dimaknai secara sempit oleh masyarakat kita dengan lebih mengartikan menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga Sarjana. Padahal bukan itu, justru “pendidikan finansial di dunia nyatalah”, bukan di sekolah, yang akan menyebabkan seseorang sanggup bertahan dari badai kesulitan ekonomi yang dapat menerpa kapan saja.

Pakar ilmu finansial Robert T Kyosaki mengarang buku berjudul, “If you want to be rich, don’t go to scool” (Jika anda ingin kaya, jangan pergi ke sekolah). Seseorang walau dengan gelar sarjana sekalipun juga akan terkapar jika dihantam badai kesulitan ekonomi sebagai “orang gajian” di instansi tempat ia bekerja. Karena mentalnya adalah mental buruh, bukan mental pengusaha yang tahan banting.
Ingin kaya? bukan sekolah tempatnya. Tapi di dunia bisnislah yang akan menempa seseorang untuk menjadi seorang pengusaha tangguh dan tahan banting. Namun yang sangat disayangkan yang terjadi ditengah tengah masyarakat adalah banyak UKM yang dibantu baik oleh NGO asing ataupun lembaga lain atau pemerintah, di saat usahanya mandeg dan dapat kesulitan merekapun dengan tangkas membuat “daftar alasan” yang membuat mereka kalah dalam bersaing. Memutuskan berhenti berjuang menjadi entrepreneur dan lupa mengoreksi kesalahan diri untuk selalu bertumbuh. Hanya yang mampu mengoreksi diri dan selalu belajarlah - yang akhirnya mampu bertahan karena selalu berlatih dan kian hari kian tahan banting dan mampu meningkatkan daya saing produknya. Virus entrepreneur bukanlah sebuah virus instan karena ia harus disuntikkan pada generasi muda melalui perubahan kurikulum pendidikan disekolah dan sejak dari “sekolah pertama” yang dikenal anak yaitu lingkungan rumahnya. Settingan mental anak seperti ini, Ibarat si anak diajari memanjat pohon kelapa maka ketinggian pohon pepaya pasti terlewati. Tapi jika si anak diajari memanjat pohon pepaya jangan harap bisa menyamai tinggi pohon Kelapa. Artinya, jika anak di- setting jadi pengusaha, serendah rendahnya pasti mampu jadi orang gajian. Tapi jika anak disetting jadi orang gajian, ia tak akan punya nyali jadi pengusaha.

Kepentingan rezim berkuasa

Dahulu, rezim berkuasa mempersulit warga menjadi entrepreneur dengan cara monopoli, regulasi, dan birokrasi yang berbelit-belit. Aroma KKN sangat kental. Cabang bisnis utama “haram” hukumnya untuk dapat dimasuki oleh masyarakat. Kesulitan memulai bisnis membuat calon pengusaha di masa itu mundur teratur. Ini juga merupakan salah satu pemicu yang melatari didirikan HIPMI tanggal 10 Juni 1972 yakni untuk mendorong masyarakat agar jadi pengusaha. Kurikulum pendidikan juga “di-setting” oleh Rezim untuk mencetak warganya menjadi pegawai saja.

Langkah yang tepat saat ini adalah mengubah kurikulum pendidikan agar memacu siswa menjadi seorang entrepreneur sejati yang tangguh. Hingga saat ini di sekolahan juga masih banyak pola pikir kuno berseliweran. Ada oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi”
Lalu setelah tamat sekolah, anak didik melamar kerja untuk jadi orang gajian alias buruh. Khusus bagi mereka yang memiliki titel jika diterima mereka diberikan seragam buruh yang agak berbeda seperti dasi yang terlihat sedikit “keren” padahal tetap saja namanya buruh. Yang pasti orang yang menerima gaji tidak akan pernah lebih kaya daripada orang yang telah memberinya gaji.

Merubah Paradigma, Mengubah kultur,
Merubah paradigma “seolah-olah” memaksakan orang untuk mengubah agama yang diyakininya benar. Bisa dibayangkan akan terjadi pro dan kontra yang cukup menghebohkan. Karenanya berharap mengubah kurikulum pendidikan saja akan mustahil karena kurikulum pendidikan disusun oleh narasumber ahli yang masih memiliki paradigma lama. Mungkin narasumber ahli itu adalah seorang yang bergelar Profesor atau Doktor. Menyalahkan sang Profesor atau Doktor berpotensi untuk dicap kurang waras. (Profesor kok dilawan…..)
Dalam “menyuntikkan” virus entrepreneur ini, Orang tua harus berani memprovokasi anaknya dengan kata-kata: “Nak…. Ayah sudah terlanjur jadi orang gajian. Ayah adalah korban Rezim zaman dulu. Jadi, jika kamu besar nanti jangan mau jadi orang gajian seperti ayah. Jadilah pengusaha, sekalipun pengusaha tahu - tempe namun pastikan UKM yang kamu dirikan itu akan selalu bertumbuh, keraslah pada dirimu sendiri untuk berdisiplin dan bangun integritas dirimu karena integritas diri itu sangat fatal apalagi di mata perbankan. Semua Perbankan menyukai pengusaha seperti ini. Tirulah Bob Sadino, hanya dari modal awal lima butir telur hingga kemudian jadi besar karena berdisiplin keras, bandel, dan tahan banting. Jangan sekali kali kamu mengemis-ngemis kerja pada pemerintah atau minta kerja pada perusahaan orang karena mengemis kerja adalah ciri-ciri mental seorang pecundang dan pengecut. Ingat !!! ayah mengajarimu jadi seorang yang pemenang, bukan pecundang. Jika kamu tidak meraih ranking satu dikelas, janganlah bersedih karena ranking dikelas itu hanya lelucon, bahan tertawaan bagi para entrepreneur sejati. Justru yang harus kamu lakukan adalah mencatat nama teman-teman pintarmu yang rangking satu tadiKamu harus mampu memprovokasi teman temanmu itu jadi dokter, ahli hukum, ahli konstruksi dll. Setelah dia masuk dalam perangkap dan mengemis minta kerja, maka jadikan dia pekerja professional di jaringan kerajaan bisnis yang kamu rintis nanti. Kalo dia tidak mampu mencapai target, PECAT DIA karena untuk selalu bertumbuh dan menjadi besar kamu harus professional. Bisnis adalah bisnis teman adalah teman. Jangan dicampur adukkan….”

Inilah pesan yang disampaikan para orang tua yang memiliki pola pikir radikal positif dalam memprovokasi anak-anaknya. Anak adalah kertas putih, tergantung kita mau membuatnya seperti apa. Kalau kita mencetaknya jadi orang gajian maka jadilah ia orang gajian. Dan jangan salahkan kalau banyak orang tua setelah pensiun beralih profesi jadi baby sitter, jagain cucu karena kedua orang tua si bayi pergi kerja. Jangan salahkan anak, jika ketika mereka berkeluarga, tapi masih juga sering “nanduk” orang tua ketika mereka tak bisa bayar kontrakan rumah (ndak usah merasa tertampar jika anda selaku orang tua sedang mengalaminya.)
Inilah resiko anak yang dari kecilnya sudah dicetak jadi orang gajian. Berakibat mental pengusaha si anak tak pernah terasah. Sekali kalah dalam persaingan dan usahanya harus tutup, mental aslinya selaku buruh kembali muncul. Mana mungkin bisa menang dalam persaingan usaha kalau tidak konsisten dan tidak punya keinginan kuat untuk bersaing. Pendidikan mental sedari dini sangatlah fatal. Janganlah kita berpikir bahwa pendidikan bisnis ini bisa dilalui dalam 2 – 3 tahun. Ingat !!! sekolah bisnis di dunia nyata itu belum ada lembaganya di dunia ini. Sekolah bisnis itu ada di kehidupan yang mereka jalani saat ini dengan menghadapinya.
Seperti yang kita maklum selama ini, Untuk tamat SD saja butuh 6 tahun. Padahal inti materi pelajaran SD hanya tiga point, yakni belajar membaca, menulis dan matematika dasar. Lainnya…? Hampir mayoritas mubazir. Kebanyakan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang jelas jelas gak ada relevansinya saat anak nantinya beraktifitas dilingkungannya. Akhirnya ilmu yang diajarkan guru hanya untuk kepentingan sesaat waktu ulangan. Siap ulangan ilmu tsb dibuang ke tong sampah. Gak pernah di ingat lagi karena memang tidak terpakai dalam kehidupan sehari hari. Daripada mata pelajaran / mata kuliah mubazir seperti itu, tentu merupakan peluang yang bagus untuk memasukkan mata kuliah Entrepreneur kepada siswa atau mahasiswa untuk menyuntikkan virus entrepreneur tadi.
Bursa kerja fair yang rutin dilaksanakan diseluruh Indonesia, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya, juga untuk “meng-amini sistem” pendidikan dari pemerintah tadi, untuk mencetak orang gajian. Boleh dikatakan semua lembaga kursus di Indonesia juga memiliki visi dan misi menjadikan peserta didiknya untuk jadi orang gajian seumur hidup. Bahkan, salah satu lembaga kursus mengiklankan diri dengan bunyi:
–95% alumni LP3xx sudah bekerja–
Bukan salah Bursa Kerja Fair atau Lembaga Pendidikan tadi. Tapi Sistem pendidikan yang masih menyesatkan pola pikir anak anak muda kita yang potensial yang berakibat banyak di antara para muda, “terjerumus” jadi KULI sampai mati . Siapakah yang bisa mengubah?….


TULISAN ini dilatari tiga hal. Pertama, menyikapi bursa kerja fair yang rutin diadakan diseluruh provinsi di Indonesia. Kedua, Kurikulum pendidikan kita yang lebih mengarahkan siswa untuk condong menjadi orang gajian. Ketiga, keinginan manusia yang sangat normatif yaitu ingin menjalani hidup dengan berkecukupan.
Dari akar masalah itu, saya banyak mendengarkan para orang tua yang berkata seperti ini: “Dibanding mewariskan harta saya lebih cenderung mewariskan ilmu pada anak saya karena bila dititipkan harta pasti habis. Tapi bila dititipkan ilmu mereka akan bisa hidup makmur, nyaman dan mandiri.”
Benarkah jika anak dititipkan ilmu dengan sekolah setinggi tingginya dapat hidup makmur? “Paradigma usang” seperti itu, penulis dengar dari mayoritas orang tua mulai dari orang tua biasa hingga yang berpendidikan tinggi. Paradigma yang melahirkan statemen bahwa pendidikan dapat membuat hidup berkecukupan memang tidak salah. Banyak sarjana (apalagi sarjana kedokteran) yang memiliki kehidupan yang mapan. Tapi tak sedikit juga sarjana hidup sederhana saja. Bahkan menganggur.

Sebenarnya yang saya sayangkan dengan statemen tersebut adalah “Pendidikan” dimaknai secara sempit oleh masyarakat kita dengan lebih mengartikan menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga Sarjana. Padahal bukan itu, justru “pendidikan finansial di dunia nyatalah”, bukan di sekolah, yang akan menyebabkan seseorang sanggup bertahan dari badai kesulitan ekonomi yang dapat menerpa kapan saja.

Pakar ilmu finansial Robert T Kyosaki mengarang buku berjudul, “If you want to be rich, don’t go to scool” (Jika anda ingin kaya, jangan pergi ke sekolah). Seseorang walau dengan gelar sarjana sekalipun juga akan terkapar jika dihantam badai kesulitan ekonomi sebagai “orang gajian” di instansi tempat ia bekerja. Karena mentalnya adalah mental buruh, bukan mental pengusaha yang tahan banting.
Ingin kaya? bukan sekolah tempatnya. Tapi di dunia bisnislah yang akan menempa seseorang untuk menjadi seorang pengusaha tangguh dan tahan banting. Namun yang sangat disayangkan yang terjadi ditengah tengah masyarakat adalah banyak UKM yang dibantu baik oleh NGO asing ataupun lembaga lain atau pemerintah, di saat usahanya mandeg dan dapat kesulitan merekapun dengan tangkas membuat “daftar alasan” yang membuat mereka kalah dalam bersaing. Memutuskan berhenti berjuang menjadi entrepreneur dan lupa mengoreksi kesalahan diri untuk selalu bertumbuh. Hanya yang mampu mengoreksi diri dan selalu belajarlah - yang akhirnya mampu bertahan karena selalu berlatih dan kian hari kian tahan banting dan mampu meningkatkan daya saing produknya. Virus entrepreneur bukanlah sebuah virus instan karena ia harus disuntikkan pada generasi muda melalui perubahan kurikulum pendidikan disekolah dan sejak dari “sekolah pertama” yang dikenal anak yaitu lingkungan rumahnya. Settingan mental anak seperti ini, Ibarat si anak diajari memanjat pohon kelapa maka ketinggian pohon pepaya pasti terlewati. Tapi jika si anak diajari memanjat pohon pepaya jangan harap bisa menyamai tinggi pohon Kelapa. Artinya, jika anak di- setting jadi pengusaha, serendah rendahnya pasti mampu jadi orang gajian. Tapi jika anak disetting jadi orang gajian, ia tak akan punya nyali jadi pengusaha.

Kepentingan rezim berkuasa

Dahulu, rezim berkuasa mempersulit warga menjadi entrepreneur dengan cara monopoli, regulasi, dan birokrasi yang berbelit-belit. Aroma KKN sangat kental. Cabang bisnis utama “haram” hukumnya untuk dapat dimasuki oleh masyarakat. Kesulitan memulai bisnis membuat calon pengusaha di masa itu mundur teratur. Ini juga merupakan salah satu pemicu yang melatari didirikan HIPMI tanggal 10 Juni 1972 yakni untuk mendorong masyarakat agar jadi pengusaha. Kurikulum pendidikan juga “di-setting” oleh Rezim untuk mencetak warganya menjadi pegawai saja.

Langkah yang tepat saat ini adalah mengubah kurikulum pendidikan agar memacu siswa menjadi seorang entrepreneur sejati yang tangguh. Hingga saat ini di sekolahan juga masih banyak pola pikir kuno berseliweran. Ada oknum guru berkata “Para murid harus rajin belajar, raih rangking satu, supaya setelah tamat nanti bisa bekerja di BUMN strategis dan dapat gaji tinggi”
Lalu setelah tamat sekolah, anak didik melamar kerja untuk jadi orang gajian alias buruh. Khusus bagi mereka yang memiliki titel jika diterima mereka diberikan seragam buruh yang agak berbeda seperti dasi yang terlihat sedikit “keren” padahal tetap saja namanya buruh. Yang pasti orang yang menerima gaji tidak akan pernah lebih kaya daripada orang yang telah memberinya gaji.

Merubah Paradigma, Mengubah kultur,
Merubah paradigma “seolah-olah” memaksakan orang untuk mengubah agama yang diyakininya benar. Bisa dibayangkan akan terjadi pro dan kontra yang cukup menghebohkan. Karenanya berharap mengubah kurikulum pendidikan saja akan mustahil karena kurikulum pendidikan disusun oleh narasumber ahli yang masih memiliki paradigma lama. Mungkin narasumber ahli itu adalah seorang yang bergelar Profesor atau Doktor. Menyalahkan sang Profesor atau Doktor berpotensi untuk dicap kurang waras. (Profesor kok dilawan…..)
Dalam “menyuntikkan” virus entrepreneur ini, Orang tua harus berani memprovokasi anaknya dengan kata-kata: “Nak…. Ayah sudah terlanjur jadi orang gajian. Ayah adalah korban Rezim zaman dulu. Jadi, jika kamu besar nanti jangan mau jadi orang gajian seperti ayah. Jadilah pengusaha, sekalipun pengusaha tahu - tempe namun pastikan UKM yang kamu dirikan itu akan selalu bertumbuh, keraslah pada dirimu sendiri untuk berdisiplin dan bangun integritas dirimu karena integritas diri itu sangat fatal apalagi di mata perbankan. Semua Perbankan menyukai pengusaha seperti ini. Tirulah Bob Sadino, hanya dari modal awal lima butir telur hingga kemudian jadi besar karena berdisiplin keras, bandel, dan tahan banting. Jangan sekali kali kamu mengemis-ngemis kerja pada pemerintah atau minta kerja pada perusahaan orang karena mengemis kerja adalah ciri-ciri mental seorang pecundang dan pengecut. Ingat !!! ayah mengajarimu jadi seorang yang pemenang, bukan pecundang. Jika kamu tidak meraih ranking satu dikelas, janganlah bersedih karena ranking dikelas itu hanya lelucon, bahan tertawaan bagi para entrepreneur sejati. Justru yang harus kamu lakukan adalah mencatat nama teman-teman pintarmu yang rangking satu tadiKamu harus mampu memprovokasi teman temanmu itu jadi dokter, ahli hukum, ahli konstruksi dll. Setelah dia masuk dalam perangkap dan mengemis minta kerja, maka jadikan dia pekerja professional di jaringan kerajaan bisnis yang kamu rintis nanti. Kalo dia tidak mampu mencapai target, PECAT DIA karena untuk selalu bertumbuh dan menjadi besar kamu harus professional. Bisnis adalah bisnis teman adalah teman. Jangan dicampur adukkan….”

Inilah pesan yang disampaikan para orang tua yang memiliki pola pikir radikal positif dalam memprovokasi anak-anaknya. Anak adalah kertas putih, tergantung kita mau membuatnya seperti apa. Kalau kita mencetaknya jadi orang gajian maka jadilah ia orang gajian. Dan jangan salahkan kalau banyak orang tua setelah pensiun beralih profesi jadi baby sitter, jagain cucu karena kedua orang tua si bayi pergi kerja. Jangan salahkan anak, jika ketika mereka berkeluarga, tapi masih juga sering “nanduk” orang tua ketika mereka tak bisa bayar kontrakan rumah (ndak usah merasa tertampar jika anda selaku orang tua sedang mengalaminya.)
Inilah resiko anak yang dari kecilnya sudah dicetak jadi orang gajian. Berakibat mental pengusaha si anak tak pernah terasah. Sekali kalah dalam persaingan dan usahanya harus tutup, mental aslinya selaku buruh kembali muncul. Mana mungkin bisa menang dalam persaingan usaha kalau tidak konsisten dan tidak punya keinginan kuat untuk bersaing. Pendidikan mental sedari dini sangatlah fatal. Janganlah kita berpikir bahwa pendidikan bisnis ini bisa dilalui dalam 2 – 3 tahun. Ingat !!! sekolah bisnis di dunia nyata itu belum ada lembaganya di dunia ini. Sekolah bisnis itu ada di kehidupan yang mereka jalani saat ini dengan menghadapinya.
Seperti yang kita maklum selama ini, Untuk tamat SD saja butuh 6 tahun. Padahal inti materi pelajaran SD hanya tiga point, yakni belajar membaca, menulis dan matematika dasar. Lainnya…? Hampir mayoritas mubazir. Kebanyakan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang jelas jelas gak ada relevansinya saat anak nantinya beraktifitas dilingkungannya. Akhirnya ilmu yang diajarkan guru hanya untuk kepentingan sesaat waktu ulangan. Siap ulangan ilmu tsb dibuang ke tong sampah. Gak pernah di ingat lagi karena memang tidak terpakai dalam kehidupan sehari hari. Daripada mata pelajaran / mata kuliah mubazir seperti itu, tentu merupakan peluang yang bagus untuk memasukkan mata kuliah Entrepreneur kepada siswa atau mahasiswa untuk menyuntikkan virus entrepreneur tadi.
Bursa kerja fair yang rutin dilaksanakan diseluruh Indonesia, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya, juga untuk “meng-amini sistem” pendidikan dari pemerintah tadi, untuk mencetak orang gajian. Boleh dikatakan semua lembaga kursus di Indonesia juga memiliki visi dan misi menjadikan peserta didiknya untuk jadi orang gajian seumur hidup. Bahkan, salah satu lembaga kursus mengiklankan diri dengan bunyi:
–95% alumni LP3xx sudah bekerja–
Bukan salah Bursa Kerja Fair atau Lembaga Pendidikan tadi. Tapi Sistem pendidikan yang masih menyesatkan pola pikir anak anak muda kita yang potensial yang berakibat banyak di antara para muda, “terjerumus” jadi KULI sampai mati . Siapakah yang bisa mengubah?….

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Persamaan Mencontek Dengan Korupsi


Korupsi menurut Transparancy International didefinisikan sebagai “Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka” (www.pukatkorupsi.org)
Definisi mencontek pun tak jauh berbeda, mencontek adalah perilaku seorang murid, baik siswa maupun mahasiswa, yang secara tidak wajar dan tidak legal berusaha mempertinggi nilai ujian sendiri atau mempertinggi nilai ujian mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kepercayaan guru/dosen terhadap kemampuan mahasiswa tersebut. Definisi mencontek ini tentunya datang dari diri saya sendiri hehe, bukan dari pakar manapun. Akan tetapi, coba kita lihat baik-baik. Kita harus mengakui bahwa itu benar adanya.!

Korupsi menurut Transparancy International didefinisikan sebagai “Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka” (www.pukatkorupsi.org)
Definisi mencontek pun tak jauh berbeda, mencontek adalah perilaku seorang murid, baik siswa maupun mahasiswa, yang secara tidak wajar dan tidak legal berusaha mempertinggi nilai ujian sendiri atau mempertinggi nilai ujian mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kepercayaan guru/dosen terhadap kemampuan mahasiswa tersebut. Definisi mencontek ini tentunya datang dari diri saya sendiri hehe, bukan dari pakar manapun. Akan tetapi, coba kita lihat baik-baik. Kita harus mengakui bahwa itu benar adanya.!
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Radio FM

Followers

Entri Terpopuler

Label

animasi beregerak naruto
animasi beregerak naruto